Selasa, 09 September 2008

JURGEN HABERMAS DAN GLOBALISASI INFORMASI : sebuah kajian ledakan informasi sebagai pengetahuan emansipatoris masyarakat informasi dalam era digital

Oleh : Umar Falahul Alam


PENDAHULUAN
Dunia modernitas dengan segala konsekwensi perubahan di dalamnya menjadi realitas yang harus disikapi dengan arif. Adanya perubahan budaya dan tingkah laku yang terjadi dalam dinamika sosial dan masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi menjadi sangat rasional, untuk itu dibutuhkan cara pandang yang benar, bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dalam informasi dan komunikasi ini dapat menjadi wahana atau alat bantu yang sangat bermanfaat bagi komunitas masyarakat banyak.
Ilmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi. Sejak tahun 1700-an (abad pencerahan) dua narasi besar telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Narasi itu adalah, pertama, kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress). Mitos Politik ini menjustifikasi sains sebagai alat untuk kebebasan dan humanisasi. Sejak awal zaman modern, semua orang dianggap berhak untuk mendapatkan pengetahuan, meskipun pada kenyataannya ada rintangan-rintangan dari kaum agamawan, penguasa atau halangan dari kaum laki-laki terhadap perempuan. Melalui ilmu pengetahuan manusia bangkit untuk mengembangkan diri dan meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan. Dan yang ke dua, narasi yang bersifat filosofis, menggambarkan bahwa “subyek” yang sadarlah (cogito) dan bukan manusia dalam bentuknya yang utuh yang sesungguhnya memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan itu. Dalam pandangan modern, ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dengan demikian ilmu tidak boleh dimuati bias subyektivitas, nilai-nilai moral atau kepentingan tertentu. Ke dua mitos ini menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.
Jean Baudrillard mengemukakan terjadinya perubahan besar dari model mekanis, produksi metalurgi ke suatu industri informasi dan dari produksi ke konsumsi sebagai fokus utama ekonomi. Era di mana berbagai perspektif media baru cenderung mengaburkan perbedaan tajam antara realitas dan fantasi (simulacra), sehingga meruntuhkan suatu keyakinan pada suatu realitas obyektif. Dikotomi modern tentang suatu realitas obyektif versus citra (images) atau citra-citra subyektif sedang diruntuhkan dan digantikan dengan suatu hiperealitas “self-referential signs” (tanda-tanda referensi diri). Pemikir postmodern menggantikan konsepsi tentang adanya suatu realitas independent dari pengamat (observer) dengan mengajukan gagasan keterkaitan subyek dengan dunia (subyek dengan obyek). Lalu bahasa dilihat bukan sekedar bersifat denotative (logosentrisme), bahasa tidak hanya penting dengan fungsi logis/epistemologisnya saja. Pembahasan tentang bahasa berkenaan dengan bagaimana hubungan antara penelaran, makna,kebenaran dan bahasa. Dalam masa pencerahan “rasio” menjadi lambang pengetahuan, sumber kepastian dan dasar bagi kekuasaan. Ini yang kemudian oleh Habermas disebut dengan “Rasio Instrumental” (pengetahuan menjadi alat kekuasaan). Rasio bukan lagi sekedar membedakan manusia dengan binatang (mahkluk infrahuman) akan tetapi membedakan orang berkuasa (orang pintar) dengan rakyat kecil yang dianggap tidak rasional dan bodoh.

GLOBALISASI DAN LEDAKAN INFORMASI
Globalisasi merupakan sebuah istilah yang berhembus kencang sejak tahun 1980-an. Mittleman mengartikan globalisasi sebagai fenomena dunia luas, globalisasi adalah bergabungnya perkembangan suatu negara dan struktur lokal dengan negara lain. Di satu sisi globalisasi telah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Ada kekhawatiran bahwa kekuatan globalisasi itu tidak dapat dibendung dan bahwa dampaknya sangat merugikan. Rasa ketakutan seperti ini sering disebut dengan globaphobia. Di sisi yang lain globalisasi dipandang sebagai kemajuan peradaban yang harus dibuat untuk membuat tatanan dunia yang lebih baik dan bermanfaat, karena terdapat gejala saling ketergantungan antar negara dan saling adanya keterkaitan masalah bersama.
Globalisasi dimulai karena adanya kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi, informasi dalam pacu yang sangat menakjubkan dan menggairahkan gaya hidup masyarakat yang serba digital, fakta ini seolah menegaskan, bahwa masyarakat dunia telah memasuki era baru yang serba mobile, praktis, dan sangat personal. Dan internet sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru, yaitu dunia “maya”. Tentang hal ini Habermas mengatakan bahwa globalisasi terjadi karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, tetapi meskipun keadaan ini mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, kemampuan negara dalam memberikan kesadaran baru masyarakat itu sangat minim.
Globalisasi informasi itu timbul sebagai kekuatan raksasa yang mampu mengeliminir dan menciutkan ruang dan waktu akibat mengglobalnya perekonomian dunia. Berkaitan dengan arus informasi global, siapapun tidak dapat menolak kenyataan akan mengglobalnya arus informasi yang terakses, sehingga membentuk ranah yang disebut dengan masyarakat informasi global, Menurut Beni terdapat lima determinan atau faktor penentu pembentuk masyarakat informasi :
 Pertama, kemajuan dalam bidang pendidikan
 Kedua, adanya perubahan dalam karakteristik pola kerja. Evolusi dalam pola kerja membuat orang mencari informasi atau pengetahuan tentang cara-cara paling efisien, efektif, praktis dan mudah untuk melakukan suatu pekerjaan
 Ketiga, adanya perubahan dakam penyebaran pengetahuan dari cara primitif dari mulut ke mulut sampai pada penggunaan super canggih, komputer.
 Keempat, adanya perubahan dalam cara-cara orang mencari pengetahuan
 Kelima, adanya kemajuan dalam penciptaan alat-alat (tools) untuk menyebarkan dan mengakses pengetahuan baru.
memang dalam hal-hal tertentu terdapat limitasi/pembatasan akses khusus, sehingga suatu informasi tidak dapat diakses oleh orang lain atau masyarakat banyak semisal untuk proteksi data tertentu atau jika menyinggung dengan masalah hukum privat. Peningkatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi atau yang dikenal pula dengan Information and Communication Technology (ICT), khususnya melalui kegiatan telekomunikasi secara terus-menerus merupakan dasar bagi terbentuknya masyarakat informasi. Menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Sehingga masyarakat yang mendapat kesempatan dan akses informasi secara cepat dan tepat akan jauh lebih maju dibandingkan masyarakat yang ketinggalan informasi. Bahkan menurut Putu L. Pandit, misi utama masyarakat informasi adalah mewujudkan masyarakat yang sadar tentang pentingnya informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, terciptanya suatu layanan informasi yang terpadu, terkoordinasi dan terdokumentasi serta tersebarnya informasi ke masyarakat luas secara cepat, tepat dan bermanfaat. Barangkali konsep inilah yang mendasari persamaan dengan persepsi Habermas jika teknologi informasi merupakan kelanjutan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sesuai dengan apa yang dia sebut sebagai emansipasi modernitas.

Pentingnya Literacy Informasi dalam komunikasi emansipatoris
Komunikasi emansipatoris akan dapat berjalan dengan baik, apabila terdapat hubungan yang sinergis antara penyedia berita (provider) dan penerimanya. Ketidaktahuan seseorang untuk memanfaatkan informasi yang didapatkannya ataupun ketidakmampuan provider memberikan pintu akses informasi seluas-luasnya akan membuat hubungan ini menjadi pincang. Maka, seseorang akan disebut literate informasi apabila ia memiliki kemampuan akan dasar-dasar yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang bervariasi, baik tercetak maupun elektronik, untuk mendapatkan apa yang dinginkannya kapan saja. Orang yang literate informasi adalah orang yang tercerahkan oleh informasi dan dapat membuat sebuah keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapinya dengan benar serta penuh percaya diri. Komite ALA untuk literasi informasi (1989), merekomendasikan bahwa untuk menjadi literate informasi, seseorang harus dapat mengenali kapan informasi itu dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkannya itu secara efektif. Selain itu tentunya juga dibutuhkan beberapa skill/kemampuan dasar dari seseorang, dan skill utama yang dibutuhkan adalah pemahaman seseorang dalam menganalisa kebutuhan-kebutuhan informasi, dan pemahamannya dimana sumber-sumber informasi itu berada.
Secara lebih jauh, menurut Chowdhury kemampuan literacy informasi berguna untuk :
1. Mengenali kebutuhan informasi dan menentukan informasi yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah dan dalam membuat keputusan
2. Mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang potensial baik dalam format tercetak maupun elektronik
3. Melakukan strategi pencarian yang diperlukan untuk menerima informasi dengan menggunakan teknologi dan peralatan yang tersedia
4. Merevieu, memilih, menafsirkan dan mengevaluasi informasi yang relevan secara kritis dan untuk membuat penafsiran informasi
5. Mengolah dan menyajikan informasi secara efektif dan kreatif
6. Menilai proses dan hasil dari pencarian informasi
7. Meningkatkan kemampuan membaca informasi dan minat/pleasure
8. Meningkatkan kemampuan secara kontinyu dan memperbaharui pengetahuan yang dimiliki
9. Mendemonstrasikan inisiatif dalam pemecahan masalah dalam informasi dan bersikap terbuka untuk belajar
10. Bekerjasama dalam memecahkan masalah-masalah informasi dengan orang lain.
Secara umum literasi mengandung nilai manfaat yang berlebih, paling tidak terdapat lima manfaat kemampuan literasi bagi manusia, menurut Kevin McGarry manfaat-manfaat itu bisa bernilai :
1. bernilai ekonomi : kemampuan literacy memfasilitasi nilai ekonomi dari pemilik literasi dan memaksimalkan apa yang dibutuhkan masyarakat di mana dia berada, penulis seperti Anderson mengatakana bahwa suatu dasar literasi itu diperlukan untuk menuju apa yang dia sebut “tinggal landas ekonomi” dalam masyarakat yang sedang berkembang.
2. bernilai survival, contoh : bahaya disekitar pada kasus seorang ibu yang tidak bisa membaca resep di botol obat bagi anaknya yang sedang sakit.
3. bernilai personal-sosial : adanya kepercayaan diri yang tumbuh karena memiliki kemampuan literasi
4. memiliki banyak akses terhadap suatu variasi dari sudut pandang yang terkait dengan kebijakan sosial ekonomi, sehingga meningkatkan potensi dan partisipasinya dalam hubungan masyarakat
5. memiliki unsur komponen bahasa, penggunaan bahasa sebagai alat untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan dan modernisasi
Bekaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, kemampuan individu untuk melek atau literat informasi sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan teknologi informasi, terminology ini selain berlaku secara individual, juga berlaku untuk sistem pendidikan dan pengajaran bahkan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Skill teknologi informasi ini bisa saja berarti kemampuan seseorang dalam teknik penggunaan komputer, software, database, dan teknologi lainnya dalam meningkatkan tujuan dan keinginannya.
Sejauh ini signifikansi literasi informasi yang selalu dikaitkan dengan dasar-dasar kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menggunakan teknologi informasi, tidak diragukan lagi. Setidaknya, sebuah laporan penelitian tentang literasi informasi dari “the National Research Council” mengungkapkan bahwa konsep "fluency" dengan teknologi informasi dan komunikasi ini menunjukkan signifikansi yang jelas dalam menjelaskan hubungan antara information literacy, computer literacy, dengan kemampaun seseorang dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi. Lebih jauh laporan tersebut mengungkapkan bahwa literasi komputer itu lebih menekankan pada pemahaman secara spesifik dalam menggunakan dan memahami hardware dan software, sedangkan fluency dengan teknologi memfokusan pada pemahaman tentang konsepsi teknologi dan kemampuannya menangani kebutuhan informasinya sebagai problem-solving dan cara berpikir kritis dalam menggunakan teknologi, laporan itu juga mendiskusikan bahwa literasi informasi memfokuskan perhatiannya pada content, komunikasi, analisis, pencarian informasi dan mengevaluasinya. Sedangkan Kepiawaian dalam teknologi informasi memfokuskan pada seberapa jauh memahami penerapan teknologi dan kemampuannya dalam menggunakan teknologi tersebut.

Perpustakaan dan dialog emansipatoris pengguna
Perkembangan perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir terasa begitu pesatnya. Dari penerapan sistem konvensional, otomasi, sampai sekarang muncul istilah perpustakaan digital. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan menunjukkan pula perubahan paradigmanya, yang semula dikenal sebagai tempat atau gudang buku, kemudian bergeser lagi menjadi suatu tempat pusat sumber informasi, kini berkembang lagi menjadi pusat sumber daya informasi, sampai pada suatu cita-cita bahwa perpustakaan tidak saja sebagai agen perubahan (agent of change), tetapi lebih jauh perpustakaan ini sebagai tempat yang akan melahirkan kaum intelektual yang menghasilkan karya-karya yang berasal dari informasi yang berada di perpustakaan.
Perpustakaan sebagai wadah yang menyediakan berbagai referensi dan koleksi sumber informasi merupakan sentral rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, peneliti, dosen maupun kaum akademisi. Perpustakaan umum memiliki tugas menyediakan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang telah meninggalkan bangku sekolah. Pentingnya perpustakaan umum disadari oleh Unesco sehingga Unesco mengeluarkan manifesto perpustakaan umum yang menyatakan perpustakaan umum sebagai lembaga yang terbuka bagi siapa saja dengan tidak memandang perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan, warna kulit, kepercayaan. Selain itu perpustakaan juga dapat menjadi tempat pleasure bagi pengguna yang ingin berekreasi di alam maya. Dewasa ini perpustakaan mulai disentuh oleh kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi/ICT (information and communication Technology) yang dapat memberikan pelayanan berlebih pada pengguna dengan kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang serba cepat dan akurat sejak mulai pendaftaran anggota, peminjaman, pengembalian, maupun dalam pencarian informasi yang dibutuhkannya.
Yang menjadi masalah ironis yang tidak dapat diabaikan terletak pada kondisi sosial budaya masyarakat. Penerapan dan penggunaan teknologi informasi lebih banyak berorientasi pada situasi kota-kota besar, masyarakat yang berada di pedalaman pengaruh mengglobalnya teknologi informasi masih banyak menghadapi kendala, sehingga ada kesenjangan informasi antara daerah yang sudah mapan dengan daerah yang belum mapan. Kesenjangan informasi ini akan menimbulkan kemiskinan informasi dalam arti masyarakat tidak dapat mengakses informasi serta tidak memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan, maupun kebutuhan lainnya. Disinilah perpustakaan sebagai lembaga yang memiliki otoritas menyebarkan informasi mengemban tugas mulia berupa mengurangi kemiskinan informasi. Kemiskinan tersebut dapat dikurangi antara lain dengan mendayagunakan teknologi informasi walaupun kemiskinan informasi tidak dapat dilenyapkan sama sekali karena pada dasarnya di dunia ini selalu ada kemiskinan. Oleh karena itu harus ada kesepakatan untuk melakukan sinergi, atau dalam istilah Habermas membutuhkan consensus agar masing-masing dapat melakukan kewajiban-kewajibannya dan mendapatkan hak-hak asasinya sebagai insan masyarakat yang berpengetahuan dan informated.
Bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa informasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan sekarang ini. Laju perkembangan informasi sendiri ditentukan oleh dua hal, yaitu adanya pengelolaan informasi yang baik dan efektifnya kegiatan tukar-menukar informasi. Untuk itu perpustakaan sebagai induk informasi yang memiliki berbagai macam jenis dokumen baik tercetak seperti buku, jurnal, reprint, dan sebagainya atau dalam bentuk elektronik seperti audio ataupun audio visual, mau tidak mau harus mengolah informasi yang dimilikinya secara maksimal agar mudah dalam menyimpan dan menemukannya kembali disaat dibutuhkan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, internet dan elektronika, perpustakaan dapat meluaskan ranah pelayanannya dengan cara membentuk apa yang disebut sebagai Digital Library, atau Perpustakaan Digital. Layanan ini bertumpu pada sebuah sistem yang memiliki berbagai pelayanan dan obyek informasi yang mendukung pemakai yang menggunakan informasi tersebut melalui perangkat digital atau elektronik. Maka perpustakaan umum digital memiliki tugas menyediakan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang telah meninggalkan bangku sekolah. Pentingnya perpustakaan umum disadari oleh Unesco sehingga Unesco mengeluarkan manifesto perpustakaan umum yang menyatakan perpustakaan umum sebagai lembaga yang terbuka bagi siapa saja dengan tidak memandang perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan, warna kulit, kepercayaan.
Dengan merujuk pada definisi jaringan informasi, maka perpustakaan digital memiliki peluang untuk pengembangan jaringan informasi yang relatif lebih baik dari jaringan informasi yang pernah ada sebelumnya. Selain itu, dengan perpustakaan digital dapat lebih memungkinkan terwujudnya kerjasama antar perpustakaan secara lebih luas. Bahkan dengan perpustakaan digital siapapun dari tempat manapun akan dapat lebih mudah untuk mengetahui koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan yang jauh dari jangkauan tempat tinggalnya. Adapun dengan terbentuknya jaringan kerjasama antar perpustakaan digital akan lebih memungkinkan lagi terwujudnya penyebaran dan pemanfaatan informasi secara lebih luas, yang pada gilirannya akan mempengaruhi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada suatu masyarakat.
Dewasa ini berkembang pesatnya ICT, dan khususnya www, telah memberikan ruang akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat di seluruh dunia, keadaan ini juga terjadi dalam dunia perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, perpustakaan asosiasi professional dengan berramai-ramai mempopulerkan dan mendirikan perpustakaan digital. Tujuan utama perpustakaan digital adalah adanya dorongan kemajuan ICT yang memberikan perubahan signifikan dalam menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi. Beberapa dekade yang lalu masyarakat hanya dapat mengandalkan koleksi tercetak dengan cara membelinya di toko buku. Otoritas penerbit sangat besar dalam menyebarkan informasi-informasi itu, dan perpustakaan menjadi kolega bisnis serta berperan besar. Namun dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi maka mulai timbul paradigma baru bahwa ketersediaan informasi dapat diakses dimana saja, kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu (borderless).
Maka untuk memperoleh pemanfaatan yang maksimal perlu dibentuk semacam consensus dan saling pengertian kedua belah pihak (perpustakaan dan masyarakat pengguna), agar tidak terjadi tumpang tindih atau kesimpangsiuran informasi, di satu pihak perpustakaan berperan dalam usaha memberikan informasi yang benar dan dibutuhkan masyarakat pengguna dan sebaliknya masyarakat pengguna akan mendapatkan kemudahan-kemudahan akses terhadap informasi yang benar-benar dibutuhkannya. Hal yang dilakukan adalah perpustakaan memberikan kemudahan akses informasi dan masyarakat pengguna mengimbanginya dengan meningkatkan kemampuannya sehingga konsep literasi informasi dapat terwujud.

KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi. Meskipun ilmu pengetahuan selalu bisa ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik namun informasi sebagai basis ilmu pengetahuan telah mencapai derajatnya sendiri dan berada di titik jenuh (grey literature) akibat membanjirnya berbagai macam informasi di era digital dewasa ini.
Sebagai dampak globalisasi, internet sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyatukan berbagai macam ledakan informasi itu dengan masyarakat luas dalam dunia baru, dunia “maya”. Terjadinya globalisasi ini menurut Habermas karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, yang mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, namun ternyata tidak dibarengi dengan kemampuan sebuah negara dalam memberikan kesadaran baru (consciousness) terhadap masyarakat. Adanya kesenjangan masyarakat secara sosial dan ekonomi menunjukkan jika masyarakat sangat terkooptasi dan menjadi sangat personal.
Terlepas dari itu, informasi merupakan salah satu kebutuhan mendasar dan penting dalam kehidupan sekarang ini, dan menentukan status seseorang dalam masyarakat, karenanya informasi tersebut perlu ditunjang dengan perangkat komunikasi yang baik, dan melibatkan emansipasi masyarakat. komunikasi emansipatoris ini akan dapat berjalan dengan baik, apabila terdapat hubungan yang sinergis antara penyedia berita (provider) dan penerimanya. Seperti halnya perpustakaan, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tujuan utama perpustakaan yaitu menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi, dapat ditingkatkan secara signifikan.
Masyarakat pengguna yang mengimbangi dengan meningkatkan pengetahuannya dan menjadi literate informasilah yang akhirnya dapat meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan itu. Ketidaktahuan masyarakat sebenarnya terletak pada kurangnya komunikasi yang emansipatoris antara penyedia informasi atau informasi itu sendiri dengan masyarakat di pihak lain. Jika sinergitas antara informasi dan masyarakat dapat dibentuk, maka masyarakat akan dapat menentukan kehidupannya sendiri dengan jelas tanpa ada pembodohan dari pihak lain, disinilah disimpulkan bahwa masyarakat yang tercerahkan dengan informasi akan mampu melangsungkan kehidupannya dengan baik.










DAFTAR BIBLIOGRAFI

1. Beni, Romanus, Transisi Masyarakat Indonesia : Suatu Pemikiran Awal, dalam Sekapur Sirih Pendidikan Perpustakaan di Indonesia, 1952-2002, Editor Sulistyo-Basuki, Jakarta : Kompas, 2002
2. Chowdhurry, G.G., and Sudatta Chowdhury, “Searching CD-ROM and Online Information Sources”, London : Library Association Publishing, 2001
3. Habermas, Jurgen, a Conversation about God and the World, Interview with Eduardo Mandieta, dalam Religion and Rationality : Essays on Reason, God and modernity, Cornwall : MIT press, 2002
4. Lubis, Akhyar Yusuf, Dekonstruksi Epistemologi Modern : Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, hingga Cultural Studies, Jakarta : Pustaka Indonesia Satu, 2006
5. Lubis, Akhyar Yusuf, Setelah Kebenaran dan Kepastian dihancurkan Masih Adakah Tempat Berpijak bagi Ilmuwan ; Sebuah Uraian Filsafat Ilmu Pengetahuan Kaum Posmodernis, Bogor:AkaDemia, 2004
6. Martin, William J., “The Global Information Society”, Hampshire:Aslib Gower, 1995
7. McGarry, Kevin, Literacy, Communication and Libraries, London : Library Association Publishing,1991
8. Mittleman, J.H.,”Globalization : Critical Reflection”. Boulder and London: Lynne Reinner Publishers, 1996
9. Sutarno NS, Tanggung Jawab Perpustakaan : Dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi, Jakarta : Panta Rei, 2005
10. National Research Council.Commission on Physical Sciences, Mathematics, and Applications. Committee on Information Technology Literacy, Computer Science and Telecommunications Board. Being Fluent with Information Technology. Publication. (Washington, D.C.: National Academy Press, 1999) http://www.nap.edu/catalog/6482.html, diakses tanggal 10 Nopember 2007.

Tidak ada komentar: