Rabu, 10 September 2008

Berkaca pada Instruksi Perpustakaan model Alberta

Pendahuluan
Alberta model merupakan salah satu program literasi informasi yang menekankan pada manifestasi program instruksi perpustakaan. Sejak beberapa dekade yang lalu model-model dari instruksi perpustakaan mulai dikembangkan di beberapa negara seperti Inggris, Amerika, Australia dan di Kanada sendiri. Model ini disebut dengan Model Alberta karena program ini dilaksanakan di yayasan sekolah Alberta Edmonton, Canada. Program literasi ini ditujukan kepada siswa sekolah dengan mengajarkan bagaimana para siswa melakukan berbagai proses penelitian tentang suatu topik tertentu dengan fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaan, dengan asumsi dasar bahwa kecerdasan dan emosional para siswa dapat dikembangkan secara maksimal dengan memberikan kesempatan untuk berkreasi mencari informasi sendiri, sehingga mereka memiliki pengalaman dan kecakapan secara kognitif, maupun afektif. Yang sangat menarik dalam usaha tersebut adalah adanya kolaborasi antara guru dan pustakawan dalam mendidik para siswa di sekolah ini. Inti utama dari instruksi perpustakaan ini adalah memberikan pengertian secara mendalam kepada siswa/pembelajar sehingga mereka mampu menemukan informasi-informasi yang dibutuhkan dan secara praktis memiliki pengalaman bagaimana mereka memperlakukan informasi yang ditemukan.
Model instruksi perpustakaan ini memusatkan perpustakaan sebagai sumber riset yang memberi keluasan dan kesempatan para siswa untuk menemukan hal baru. Para guru dan pustakawan sangat berperan dalam proses ini, dimana lewat pemahaman dan pengenalan yang matang tentang kemampuan siswa, para guru dan pustakawan dapat memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa. Dalam instruksi perpustakaan ini dapat dilihat pola dan perilaku para siswa dalam memperlakukan suatu informasi yang mereka butuhkan dan sesuai dengan topik yang ditugaskan kepada mereka.

Pihak yang terlibat dalam Instruksi Perpustakaan
Beberapa pihak yang terlibat langsung dalam program instruksi perpustakaan ini digolongkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pendidik yaitu guru dan pustakawan dan kelompok anak didik. Guru dan pustakawan harus bekerjasama dalam menggunakan kelas dan perpustakaan sebagai tempat belajar. Selain itu guru dan pustakawan perlu menyediakan instruksi teknis baik berupa fokus afektif maupun kognitif maupun berupa pemahaman mendalam bagaimana siswa dapat mengalami proses penelitian dengan baik dan fasilitas apa saja yang diperlukan, agar peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengenal pengalaman-pengalaman baru yang akan mereka dapatkan dan tentu saja dapat menumbuhkan kepribadiannya sendiri.
Siswa sebagai kelompok pembelajar memiliki tingkat kecerdasan dan pemahaman yang bervariasi, oleh karena itu perlu dibuat intruksi perpustakaan yang sesuai untuk memudahkan penanganan dan evaluasi pencapaian tingkat kognitif, afektif maupun emosional inteligensinya. Sebagai peserta didik, siswa perlu dirangsang dengan berbagai teknik pembelajaran yang dapat merangsang keingintahuan dan memotivasi mereka mengetahui informasi-informasi baru, sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam instruksi perpustakaan siswa akan mendapatkan beberapa tugas yang harus dikerjakan, yaitu :
 Memperoleh topik pembahasan
 Mencari informasi-informasi yang berhubungan dengan topik
 Mengorganisasikan dan memilih informasi yang sesuai dengan topik

Model Alberta dalam Pengajaran Proses Penelitian(Focus on Research)
Dasar dari instruksi perpustakaan adalah agar perpustakaan dapat berperan besar dalam mendidik para siswa menjadi pribadi yang matang secara kognitif dan afektif. Terdapat lima tahap dalam instruksi perpustakaan, yaitu :
 Perencanaan, dalam tahap ini guru dan pustakawan memastikan topik yang akan diberikan kepada para siswa, mengidentifikasi sumber-sumber informasi, mengidentifikasi/mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan kognitif mereka, membuat langkah evaluasi progres kematangan dan kemampuan siswa mengidentifikasi informasi dan melakukan peninjauan.
Pada tahap Perencanaan, para siswa diberi kesempatan untuk memperoleh suatu gambaran dari keseluruhan proses penelitian; pemahaman komprehensif akan mendukung keberhasilan siswa. Dilibatkannya siswa dalam tahap perencanaan ini sangat krusial, karena akan memudahkan para guru dan pustakawan dalam mengidentifikasi kemampuan dan pemahaman siswa terhadap topik yang diberikan pada mereka dan mengidentifikasi apa saja yang ingin mereka ketahui tentang topik itu, membangkitkan ide-ide tentang sumber informasi yang potensial, dan mendiskusikan pemirsa potensial dan evaluasi kriteria bagi kerja mereka.
Pemilihan topik adalah tugas penting bagi siswa pada tahap ini. Untuk melakukan penelitian dengan baik, siswa harus dapat mengetahui tentang topik itu dan topik itu harus cocok dengan tingkat pemahamannya. Mempunyai pehamanan yang baik atas topik itu akan mengarahkan siswa untk meningkatkan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan kategori-kategori bagi penyelidikan. Peneliti muda atau peneliti yang tidak berpengalaman lebih dapat mengendalikan topik-topik pengetahuan umum yang penekanannya pada penemuan fakta-fakta dan pengaturan ide-ide. Siswa sekolah yunior dan menengah baru memulai untuk dapat mengendalikan penalaran abstrak terkait dalam pemfokusan atau penyempitan suatu topik atau untuk peningkatan suatu kertas posisi (Loerke, 1994). Siswa sekolah menengah dapat meningkatkan dan mendukung suatu pernyataan sebagai suatu tesis jika mereka memiliki pengalaman penelitian yang baik pada awal sekolah.
Para guru umumnya telah merencanakan tugas dan parameternya jauh sebelum para siswa mulai mengerjakan tugas itu. Para guru seharusnya mencari topik sehingga siswa terpaksa akan menemukannya secara pribadi dan bahwa siswa dapat berhubungan dengan dunia di luar sekolah. (Tallman, 1998). Untuk topik-topik yang rumit atau tugas-tugas yang memberi pilihan secara luas kepada para siswa, hal ini berarti suatu pengulangan atau daur ulang dari dua tahap pertama dari proses penelitian, sehingga siswa berkesempatan untuk melakukan pembacaan umum, untuk memiliki sumber informasi, dan untuk mengembangkan kepentingan dan perhatiannya. Perhatian pada Penelitian dan banyak model penelitian lain yang memberikan sedikit perhatian pada kerumitan dari tahap awal ini (Anderson, 1994). Kerja yang hati-hati dan penuh pemikiran dibutuhkan di sini untuk memastikan bahwa topik-topik dan pertanyaan-pertanyaan penelitian membutuhkan tingkat ketrampilan berpikir yang tinggi dan bahwa mereka akan menantang siswa dan mengaitkan dengan kepentingan dan keingintahuan mereka. Siswa merasa lebih positif menuju pada kegiatan penyelidikan ketika mereka terlibat dalam pemilihan atau pengembangan topik-topik penelitian; sayangnya ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa siswa di tingkat menengah kemungkinan kurang terlibat dalam menghasilkan topik dan pertanyaan daripada siswa yang lebih muda. (Gross, 1997).

 Penemuan Kembali Informasi, dalam tahap ini guru dan pustakawan memastikan bahwa sumber-sumber informasi yang dibutuhkan para siswa tersedia di perpustakaan, dan melakukan peninjauan.
Pada tahap untuk mendapatkan kembali informasi, siswa memperoleh sumber-sumber informasi yang dibutuhkan. Jika siswa itu muda dan tidak berpengalaman atau informasi dari topik tersebut sulit untuk diakses, pendekatan pos/pangkalan-pangkalan, pengorganisasian materi-materi dengan format atau media, seringkali efektif. Pengetahuan akan alat-alat dan sistem informasi, dan strategi-strategi pencariannya (pendekatan sumber dan pramuka/pathfinder) adalah kritis apabila siswa menemukan sumber-sumber mereka secara mandiri.
Siswa dapat mengalami kelebihan informasi selama tahap ini (Akin, 1998). Para guru seharusnya waspada secara fisik dan psikis shg dapat mengkarakteristikan kelebihan informasi --seperti: rasa marah, frustasi, lesu, mudah marah, gemetar atau mengumpat-- dan membantu para siswa untuk mengenali tanda-tanda overload ini. Sebagai tambahan dalam membantu siswa memahami bahwa perasaan-perasaan tersebut bukanlah bagian yang tidak wajar dalam proses penelitian, para guru seharusnya membantu siswa mengidentifikasi strategi yg berguna seperti menghapuskan atau menyaring (membiarkan atau memilih beberapa kategori informasi tertentu), mengeneralisir atau mencabangkan (memperluas atau mempersempit topiknya), atau meminta bantuan. Aktifitas seluruh kelas atau kelompok kecil terkait dengan pengambilan suatu gambaran yang luas dari topik itu dan sub kategorinya, seperti pemetaan konsep, atau pemutusan apa saja informasi yang mungkin cocok dengan topik itu, adalah strategi yang membantu dalam tahap pengambilan kembali informasi ini, khususnya ketika kelebihan informasi menjadi suatu masalah.

 Pengolahan Informasi, dalam tahap ini guru dan pustakawan melakukan pemilihan informasi yang relevan, pengevaluasian informasi, pengaturan dan penyimpanan informasi, penghubungan dan pengaitan, penciptaan produk, pengubahan dan perbaikan, dan melakukan peninjauan.
Pada tahap pemrosesan informasi, siswa memilih dan menggabungkan informasi yang tepat dengan topik mereka. Ini sebenarnya merupakan dua fase dalam 1 tahap. Setelah memilih dan menyimpan informasi yang tepat, siswa membuat suatu produk penelitian dengan pengorganisasian dan penggabungan informasi mereka ke dalam suatu cara yg unik dan pribadi. Inilah dimana waktu yg ditanamkan dalam perencanaan itu terbayar; siswa yang tidak paham dengan topiknya (suatu fokus topik) tidak dapat memilih informasi yg tepat.
Pada fase pertama: penyimpanan informasi, siswa membutuhkan bantuan untuk mencatat dalam beberapa format. Format itu seharusnya disediakan bagi peneliti yang tidak berpengalaman. Hal ini seharusnya merupakan suatu pencarian terhadap informasi yang tepat, terhadap informasi yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka atau sesuai ke dalam subtopik mereka, tidak mencatat semua yg mereka temukan. Hal ini sering terjadi ketika sumber-sumber elektronik atau mesin fotokopi secara nyata dapat menjadi suatu bahaya bagi proses ini.
Pada fase kedua: membuat informasi, siswa mengorganisasikan dan menggabungkan informasi mereka. Dengan adanya pembicaraan dengan siswa sebelum mereka menulis juga dapat membantu mereka mengekspresikan ide-ide mereka ke dalam kata-kata mereka sendiri. The Focus on Research model terkadang mengalami bias dalam laporan tertulisnya, akan tetapi media lain seperti kartu-kartu dan produk multimedia juga butuh perbaikan (dan petunjuk jika media itu adalah hal yang baru bagi siswa tsb)

 Berbagi Informasi, dalam tahap ini guru dan pustakawan mendiskusikan berbagai hal berdasarkan dengan temuan-temuan yang ada, pendemonstrasian perilaku siswa yang layak, dan melakukan peninjauan kembali

 Evaluasi, dalam tahap ini guru dan pustakawan melakukan evaluasi terhadap program instruksi perpustakaan, mengevaluasi prosedur dan dasar-dasar penelitian siswa, dan melakukan peninjauan terhadap proses yang telah dilakukan

Permasalahan Pustakawan
Elaine Sloan dalam tulisannya ”The Impact of Information Technologies on the Role of Research Libraries in Teaching and Learning In the United States”. Bibliographic Instruction (BI) (biasanya disebut juga dengan Library Instruction) merupakan petunjuk penggunaan perpustakaan yang mengembangkan adanya ide bahwa perpustakaan sebagai pusat pembelajaran (center for teaching). Tujuan utama BI ini adalah mengajarkan penggunanya untuk dapat menggunakan perpustakaan secara efektif. Untuk melaksanakan instruksi perpustakaan seperti diatas pustakawan memikul tugas yang sangat berat tetapi sangat krusial, pustakawan dituntut untuk tidak hanya lihai dalam mengolah materi perpustakaan akan tetapi lebih jauh juga dituntut memiliki skill dan teknik mengajar yang baik. Tragisnya, sampai saat ini masih berkembang anggapan bahwa perpustakaan merupakan tempat buangan bagi para pegawai yang bermasalah. Dari beberapa kasus yang penulis ketahui, terdapat dosen yang merasa tidak mampu mengajar akhirnya minta dipindah di perpustakaan, terdapat dosen yang bermasalah sehingga harus menerima sangsi akademik dicopot dari fungsionalnya sebagai dosen juga diletakkan di perpustakaan, terdapat beberapa karyawan yang sangat tidak disiplin dan tak berprestasi mutasinya di perpustakaan juga, sehingga SDM perpustakaan sangat mengkhawatirkan.
Keadaan SDM ini sangat ironis, bila dihubungkan dengan pernyataan Feret dan Marcinek (1999) yang menyatakan bahwa pustakawan harus berjalan seirama dengan perubahan teknologi yang terus bergerak maju dan pustakawan harus mampu beradaptasi sebagai pencari dan pemberi informasi dalam bentuk apapun. Erlendsdottir (1997) menyatakan bahwa pustakawan bukan lagi sebagai “penjaga” buku, namun adalah information provider di situasi yang terus berubah dimana kebutuhan informasi dilakukan dengan cepat dan efektif. Sekarang misi pustakawan adalah mempromosikan jasa-jasa untuk informasi yang terus membludak. Dan bahkan jika pustakawan tidak juga mau berubah, teknologi informasi akan mengubah tugas pustakawan.
Lebih jauh menurut Putu (2008) di dunia pendidikan tinggi, literasi informasi merupakan serangkaian keterampilan yang bersifat generik dan dapat diterapkan di segala bidang ilmu. Pustakawan dan penyelenggara pendidikan memberikan program-program dasar bagi para mahasiswa baru, agar mereka dapat mengembangkan diri lebih lanjut di sepanjang masa belajar mereka. Sama dengan di sekolah menengah, program-program literasi informasi di perguruan tinggi juga merupakan keterampilan mencari, menemukan, dan menggunakan informasi sebagai keterampilan teknis.

Penutup
Instruksi perpustakaan sangat bermanfaat bagi pengguna untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan afektifnya. Lewat longlife learner yang dimanifestasikan dengan kemampuan seseorang memahami, mencari, mendapatkan, mengolah dan memanfaatkan informasi secara efektif, peran perpustakaan berada pada status tertinggi dalam memberikan wisdom (kebijaksanaan) terhadap penggunanya, sehingga peran perpustakaan sangat strategis. Sebagai tempat dimana terdapat banyak sekali informasi tentang pengetahuan dan sumber-sumber informasi lainnya, perpustakaan tidak hanya dicap sebagai tempat yang harus dijunjung tinggi, sehingga acapkali perpustakaan diletakkan di lantai yang paling atas dalam suatu bangunan instansi bertingkat, dan sangat metafora karena perpustakaan akan sulit dijangkau dan pengguna akan malas memanfaatkannya.
Instruksi perpustakaan akan berjalan dengan efektif manakala terdapat sinergi dari berbagai pihak antara lain dari badan induk, pustakawan, guru, karyawan, dan penggunanya. Berkaca pada instruksi perpustakaan yang dikembangkan oleh sekolah Alberta, perpustakaan-perpustakaan di Indonesia dapat meniru atau mencontoh teknik-teknis yang dilakukan, memang sangat ironis, bahwa di Alberta siswa-siswa sekolah sudah diajarkan bagaimana menangani dan memperlakukan informasi secara efektif tersebut, sedangkan di Indonesia perpustakaan perguruan tinggipun hanya sedikit yang melakukan kegiatan instruksi perpustakaan. Kegiatan yang lazim dilakukan hanya berkisar pada pengenalan dasar perpustakaan yang dilakukan setiap tahun ajaran baru (dengan user education), membuat buku pedoman perpustakaan, serta daftar koleksi yang dimilikinya ansich.

Selasa, 09 September 2008

PEMIKIRAN FILSAFAT “TEORI KRITIS ” JÜRGEN HABERMAS

Oleh : Umar Falahul Alam


Pendahuluan

JÜRGEN Habermas adalah sosok filsuf pewaris pemikiran Madzhab Frankfrut. Pemikiran-pemikirannya cukup rumit dan sarat dengan rujukan metafora tapi sangat filosofis. Narasi besar pemikirannya bertumpu pada usaha pencarian sebuah teori yang secara memadai merumuskan syarat-syarat nyata perwujudan sebuah masyarakat yang bebas dari penindasan. Ia mencoba mengembangkan sebuah teori kritis. Madzhab Habermas ini terkenal dengan “Teori Kritis” atau “Teori Kritis Masyarakat” yang melemparkan sebuah kritikan serius terhadap konsep teori Positivisme dan menyebut positivisme itu sebagai saintisme karena mengadopsi metode ilmu-ilmu alam untuk menggagas unified science. Dikatakan bahwa positivisme hanya berpura-pura bertindak objektif dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah bebas nilai, padahal ia menyembunyikan kekuasaan dengan mempertahankan status Quo masyarakat dan tidak mendorong perubahan.
Jika dirunut ke awal sejarahnya, memang titik tolak teori kritis sejak Horkheimer adalah berasal dari persoalan paham positivisme yang salah dalam memandang keberadaan ilmu-ilmu sosial, positivisme menganggap bahwa ilmu-ilmu sosial bebas nilai (value-free), terlepas dari praktek sosial dan moralitas, yang dapat dipakai untuk prediksi, bersifat objektif dan sebagainya. Anggapan semacam itu mengkristal menjadi suatu kepercayaan umum bahwa satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah dan pengetahuan semacam itu hanya dapat diperoleh dengan menerapkan metode ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial. Anggapan seperti itu disebut saintisme (scientism) yang berarti “Science’s belief in it self. That is the convicton that we can no longer understand science as one form of possible knowledge, but rather must be identify knowledge with science”. Menanggapi kenyataan itu, madzhab Frankfrut memberi alternative dengan “teori kritis” nya sebagai teori yang memihak praxis emansipatoris masyarakat. Di kemudian hari kemudian Habermas merumuskan teori itu sebagai dasar epistemologisnya dengan menyatakan bahwa ilmu pengetahuan sangat berhubungan dengan kepentingan kognitif, sehingga posisi ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai, ilmu pengetahuan akan sangat dipengaruhi oleh sosial politik (ideologi), kekuasaan, dan kepentingan, termasuk juga oleh kelompok teori kritis yang didorong oleh kepentingan emansipatoris.
Teori kritis juga mampu membongkar kedok rasionalitas pencerahaan yang disebut rasionalitas instrumental itu telah gagal mencapai tujuan emansipatifnya yaitu membebaskan manusia dari perbudakan serta membangun kehidupan masyarakat independent yang bebas untuk mengatur kehidupan sosialnya sendiri. Kegagalan teori kritis generasi pertama lebih disebabkan terperangkap atas teori filosofis Karl Marx yang mereduksi manusia hanya sebagai makhluk pekerja. Kemudian JÜRGEN Habermas muncul sebagai pembaharu Teori Kritis dengan memperbaharui konsep paradigma komunikasi. Hal ini begitu nampak dengan langkah-langkah Habermas yang melakukan dialog-dialog Habermas dengan Foucoult tentang kekuasaan, dengan Parson tentang krisis sosial, dengan Popper mengenai falsifikasi dan yang terakhir bagaimana Habermas merumuskan hermeneutika kritis yang mengadopsi psikoanalisa untuk menggabungkan explanation dan understanding yang mengarah pada metode refleksi diri. Oleh karena itulah teori kritis ini mampu diterapkan dalam berbagai studi sosial seperti penelitian sosial kritis, kebijakan Negara dan kebijakan sosial, kontrol sosial, budaya pop analisa wacana dan media massa, kajian jender, psikologi sosial, sosiologi pendidikan, gerakan sosial, metode penelitian, ras dan etnisitas, politik mikro, pendidikan, serta pembaharuan sosiologi. Pada hakekatnya teori kritis ini memiliki empat karakter utama yaitu :
 Teori kritis bersifat historis, artinya teori kritis dilambangkan berdasarkan situasi masyarakat yang kongkrit dan kritik imanen yaitu kritik terhadap masyarakat yang nyata-nyata tidak manusiawi
 Teori kritis bersifar kritis terhadap dirinya sendiri dengan cara evaluasi, kritik dan refleksi atas dirinya sendiri
 Teori kritis menggunakan metode dialektis sehingga teori kritis memiliki kecurigaan terhadap situasi masyarakat aktual
 Teori kritis adalah teori dengan maksud praktis yaitu teori yang mendorong transformasi masyarakat dan hanya mungkin dilakukan dalam praxis.


Sejarah hidup JÜRGEN Habermas dan karya besarnya

JÜRGEN Habermas dilahirkan pada tahun 1929 di Dusseldorf Jerman. Ia mempelajari filsafat di Universitas Got tingen dan Bonn dan mulai bergabung ke dalam Institute Fur Sozialforschung pada tahun 1956, yaitu lima tahun setelah Institut itu didirikan kembali di bawah kepemimpinan Adorno. Waktu itu ia berusia 27 tahun dan mengawali karier akademisnya sebagai asisten Theodor Adorno (seorang filsuf Jerman terkemuka di Institute for social Research) antara tahun 1958-1959. Gelar Ph.D, didapatkannya setelah berhasil menyelesaikan dan mempertahankan disertasinya yang berjudul Das Absolut und die Geschichte (Yang Absolut dan Sejarah) yang kemudian diterbitkan menjadi buku pada tahun 1954 dan berisi tentang pertentangan antara yang Mutlak dan Sejarah dalam pemikiran Schelling.
Sementara ia melibatkan diri di dalam kesibukan-kesibukan Institut, ia mempersiapkan sebuah Habilitations-schrift yang berjudul Strukturwandel der Oeffentlichkeit (perubahan dalam Struktur Pendapat Umum, 1962), dan menjadi salah satu karya yang termasyhur diantara karya-karya awalnya sebagai anggota Institut. Habilitation itu dilaksanakan di Mainz pada tahun 1961, sementara pada tahun itu juga memberikan kuliah di Universitas Heidelberg sampai pada tahun 1964, dan setelah mengakhiri tugas mengajarnya, ia kembali ke Universitas Frankfurt dan menggantikan kedudukan Horkheimer dalam mengajar sosiologi dan filsafat.
Satu hal yang penting dalam memahami posisinya sebagai pemikir marxis adalah peranannya di kalangan mahasiswa Frankfrut. Seperti halnya Adorno dan Hokheimer, Habermas melibatkan diri dalam gerakan-gerakan mahasiswa kiri Jerman (new left) , meskipun keterlibatannya hanya sejauh sebagai seorang pemikir Marxis. Ia terutama menjadi popular di kalangan kelompok yang menamakan dirinya Sozialistischer Deutsche Studentenbund (Kelompok Mahasiwa Sosialis Jerman). Dalam hal ini ia mendapat reputasi sebagai pemikir baru yang diharapkan dapat melanjutkan tradisi pemikiran Horkheimer, Adorno dan Marcuse. Namun sejak tahun 1970-an, hubungan baiknya dengan gerakan ini mengendur sejak gerakan ini mulai melancarkan aksi-aksi dengan cara kekerasan yang tidak dapat ditolerir, seperti para pendahulunya, Hebermas juga melontarkan kritikannya kepada gerakan-gerakan itu, ia mengecamnya sebagai gerakan “revolusi Palsu”, “bentuk-bentuk pemerasan yang diulangi kembali”, “Picik” dan kontraproduktif.
Namun Konfontrasi itu agaknya membuka tahapan baru dalam posisi Habermas sebagai pemikir neo-Marxis. Pada tahun 1970 ia mengajukan pengunduran diri dari Frankfrut dan bergabung pada Institut lain, yaitu Max Planck Institute zur Erfoschung der Lebensbedingungen Wissenshaftlich-technischen Welt (Institut Max Planck Untuk Penelitian Kondisi-Kondisi Hidup dari Dunia Teknis-Ilmiah) di Starnberg bersama dengan C.F.von Weizsacker, bahkan JÜRGEN Habermas pada tahun 1972 sempat menjabat sebagai direkturnya. Di tempat inilah ia diangkat sebagai professor filsafat dan pensiun tahun 1994. Di tempat ini, ia juga memiliki keleluasaan untuk mengembangkan dasar-dasar teori kritisnya yang berbeda dengan gaya, isi dan jalan dari pendahu-pendahulunya, seperti Adorno, Hokheimer dan Marcuse dan juga sangat berbeda warna dengan pemikir marxis pada umumnya. Hal itu nampak dari karya-karya terpenting Habermas, seperti :
a. The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society (1962) diterjemahkan oleh Thomas Burger bersama dengan Frederick Lawrence, Cambridge, Polity Press, 1989
b. Theorie und Praxis / Theory and Practice (1963), diterjemahkan oleh John Viertel, Boston, Beacon Press, 1973
c. Erkenntnis und Interesse / Knowledge and Human Interest, (1968), diterjemahkan oleh Jeremy J. Shapiro, Boston, Beacon Press, 1971
d. Toward a Rational Society : Student Protest, Science and Politics (1968-9), diterjemahkan oleh Jeremy J. Shapiro, Boston, Beacon Press, 1970
e. On the Logic of the Social Sciences (1970), diterjemahkan oleh Shierry W. Nicholsen dan Jerry Stark, Cambridge,Mass, MIT Press, 1988
f. Legitimation Crisis (1973), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, Boston, Beacon Press, 1975
g. Communication and thr Evolution of Society (1976), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, London, Heinemann, 1979
h. Theorie des Kommunikativen Handelns /The Theory of Communication Action. Volume 1 Reason and Rationalization on Society (1981), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, Boston, Beacon Press, 1984
i. Theorie des Kommunikativen Handelns / The Theory of Communication Action. Volume 2 Lifeworld and System : a Ctitique of Functionalist Reason (1981), diterjemahkan oleh Thomas McCarthy, B: aoston, Beacon Press, 1987
j. Der Philosophische Diskurs der Moderne / The Philosophical Discourse of Modernity (1985), diterjemahkan oleh Frederick Lawrence, Cambridge, Polite Press, 1987.

Memetakan pemikiran Habermas

Untuk memahami pemikiran JÜRGEN Habermas terlebih dahulu harus dipahami latar belakang yang mempengaruhi teori-teori pemikirannya. Bisa dipastikan bahwa Habermas sangat dipengaruhi oleh warisan intelektual Mazhab Frankfurt yang terkenal dengan Teori Kritisnya, sejak tahun 30-an Habermas sudah tertarik dan mengkaji gaya karya-karya Hokheimer dan Adorno. Ternyata dikemudian hari teori Mazhab Frankfrut ini tidak saja menentukan gaya pikir dan isi teori-teorinya namun lebih jauh Habermas juga melakukan semacam pembaharuan atas kelemahan teori kritis itu terutama dengan melihat pesimisnya pendahulunya dalam memandang dunia modern. Disebut Teori Kritis karena mazhab pemikiran ini dikenal sangat getol mensosialisasikan suatu gaya berpikir analisis.
Kritik adalah konsep kunci untuk memahami Teori Kritis. Kritik juga merupakan suatu program bagi Mazhab Frankfrut untuk merumuskan suatu teori yang bersifat emansipatoris tentang kebudayaan dan masyarakat modern. Kritik-kritik mereka diarahkan pada berbagai bidang kehidupan masayarakat modern, seperti seni, ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan kebudayaan pada umumnya yang bagi mereka telah menjadi rancu karena diselubungi ideologi-ideologi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu sekaligus mengasingkan manusia individual di dalam masyarakatnya. Habermas dikenal sebagai pembaharu tradisi intelektual yang dirintis oleh Max Horkheimer, sepanjang yang dirumuskan habermas ada enam tema dalam program teori mereka :a) bentuk-bentuk integrasi sosial, b)Masyarakat postliberal c) Sosialisasi dan perkembangan ego, d)media massa dan kebudayaan massa, e)psikologi sosial protes dan f)Teori seni dan kritik atas positivisme


a. Habermas dan Para Pendahulunya
Jauh sebelum menggabungkan diri di dalam Institut, Habermas telah membaca karya-karya Hokheimer dan Adorno di tahun 30-an, antara lain Traditionelle und Kritische Theorie, tetapi juga karya mereka yang diterbitkan sertelah perang, Dialektik der Aufklarung. Buku-buku tersebut sangat mempengaruhi gaya dan alur pemikiran-pemikiran Habermas selanjutnya. Dialektik merupakan kritikan terhadap pemikiran positivisme yang (menurut Marcus, 1964) dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang setelah penemuan metode empiris-eksperimental sebagaimana dituntut oleh positivisme, telah berubah menjadi ideologi dan menimbulkan model berpikir satu dimensi. Dari penelusuran dan analisis terhadap pemikiran modern (pencerahan) itu, mereka menyimpulkan bahwa pencerahan telah menghasilkan “rasionalitas bertujuan” (Zweckrasionalitat) yang ujung-ujungnya menimbulkan bentuk positivisme, saintisme serta teknokratisme. Buku dialektik tidak hanya memikat hatinya, melainkan juga menggugah minatnya untuk memperdalam permasalahan pokok yang dibahas di dalamnya, yaitu masalah rasionalitas dan pencerahan, yang oleh Adorno dan Horkheimer dihadapi secara pesimistis. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Habermas, yang oleh Bertens dinyatakan:
“ Buku itu (Dialektik) membuat saya berani untuk membaca Marx secara sistematis dan tidak hanya secara historis. Teori Kritik Mazhab Frankfrut- tak ada tandingannya waktu itu. Membaca Adorno membuat saya berani membahas secara sistematis apa yang secara historis dipaparkan oleh Lukacs dan Korsch : Teori reifikasi sebagai teori rasionalisasi menurut Weber. Sudah sejak saat itu, masalah saya adalah teori tentang modernitas, suatu teori mengenai patologi modernitas dari sudut pandang realisasi-realisasi yang bercatat –dari rasio dalam sejarah”

Dialektik der Aufklarung, bertendensi pada keinginan untuk mencerahkan, memberikan cahaya dan pengertian, atau ingin membebaskan manusia dari prasangka, kepercayaan-kepercayaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, takhayul, penipuan dan kebohongan , yang berujung menjadi jembatan keprihatinan antara Habermas dan para pendahulunya dalam menyusun Teori Kritisnya. Seperti kita ketahui, para pendahulunya memandang pencerahan telah membuahkan Zweckrationalitat (Rasionalitas Tujuan), sumber dari berbagai bentuk saintisme, positivisme, teknokratisme dan barbarisme gaya baru. Pandangan mereka mengenai rasionalitas modern itu tak lain merupakan radikalisasi teori rasionalisasi Max Weber dan dapat dipandang sebagai teori rasionalisasi versi Teori Kritis setelah banyak mendapat inspirasi dari Lukacs. Seperti yang kita ketahui dari kritik-kritik mereka teori rasionalisai tidak hanya menyangkut analisis atas berbagai macam bentuk rasionalitas dalam sejarah, melainkan juga perwujudan rasionalitas itu dalam berbagai bentuk kehidupan politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Habermas juga meminati masalah rasionalisasi ini sebagai masalah kemanusiaan pada umumnya. Keprihatinannya terhadap masalah ini mendorongnya untuk memikirkan kembali permasalahan rasionalitas dan proses rasionalisasi itu dengan membuat analisis baik atas rasio manusia maupun perwujudannya di dalam praxis hidup sosial. Satu hal yang membedakannya dari para pendahulunya menghadapi rasionalisasi adalah sikapnya terhadap masalah ini. Jika para pendahulunya menghadapi rasionalisasi secara pesimistis sebagai jalan tunggal menuju perbudakan gaya baru, Habermas menemukan aspek-aspek positif dari proses itu sehingga dalam arti tertentu masih ada harapan real yang dapat ditempatkan dalam konteks rasionalisasi. Meskipun demikian, tidak seperti Adorno dan Horkheimer, Habermas menolak teori Marx sebagai teori, seperti juga pesimisme kultural yang ada pada generasi pertama dari Mazhab ini. Habermas yakin bahwa generasi pertama mazhab ini keliru saat mengacaukan “rasionalitas sistem” dengan “rasionalitas aksi”. Memang JÜRGEN Habermas sangat menekankan signifikansi rasionalitas dalam pemikiran filsafatnya. Hal ini menjadi sumbangannya yang paling berharga bagi perkembangan teori sosial kontemporer. Ia disebut-sebut sebagai teoritikus sosial anggota Mazhab Pemikiran Frankfurt paling representative. Habermas merupakan generasi terkini dari para pengikut Mazhab ini. .
Sama seperti para pendahulunya, Habermas hendak membangun sebuah “teori dengan maksud praxis”, maka dalam banyak hal Habermas tidak dapat meninggalkan teori warisan dari Mazhab Frankfrut pendahulunya. Disini Habermas menghadapi masalah positivisme dalam ilmu-ilmu tentang masyarakat dan aplikasinya sebagai teknologi sosial. Jika para pendahulunya menolak sama sekali pemikiran modern tersebut, Habermas melihat segi-segi positifnya. Unsur-unsur modernitas, seperti teknologi, ilmu-ilmu empiris dan positivisme sendiri sebagai cara berpikir, merupakan factor yang penting bagi salah satu dimensi dari praxis hidup manusia, yaitu kerja. Dengan jalan itu manusia berhasil membebaskan diri dari alam eksternalnya. Meskipun Habermas menerima cara berpikir positivistis dan teknologi dalam konteks kerja, ia bersikap tegas terhadapnya apabila diterapkan dalam konteks interaksi sosial. Di sini seperti para pendahulunya, ia mengecam positivisme sebagai “ideologis” dan saintisme karena positivisme mengkalim diri sebagai pengetahuan sejati yang meliputi segala bidang, termasuk kehidupan social manusia.
Dari segi isi dan latar belakang pemikiran-pemikirannya, Habermas tetap berakar pada tradisi idealisme Jerman seperti para pendahulunya, khususnya transendentalisme Kant, Idealisme Fiche dan Hegel, dan materialisme Marx. Sebagaimana lazimnya Mazhab Frankfrut, Habermas juga mengintegrasikan psikoanalisis Freud ke dalam teori kritisnya. Bahkan perhatiannya terhadap psikoanalisis nampak mencolok bila dibandingkan dengan para pendahulunya. Dengan Habermas, teori Kritis mendapat wawasan baru yang diperoleh dari tradisi Anglo Amerika, yaitu Lingustic-analysis dari Wettgenstein, Searle dan Austin. Jadi melampaui para pendahulunya, ia mencoba mengintegrasikan pemikiran analitis ini ke dalam pemikiran dialektis Teori Kritisnya. Perhatiannya terhadap aspek linguistis manusia dapat dijumpai pula sejak karya-karya awalnya, sekurang-kurangnya dalam bentuk rencana untuk mengarahkan pemikirannya kepada tradisi analitis itu. Beberapa kalangan menilai bahwa telah terjadi “linguistic Turn” dalam pemikiran Habermas Apapun mau disebut, minatnya terhadap analisis bahasa dapat dimengerti dalam konteks pemahaman baru Teori Kritisnya mengenai komunikasi sebagai salah satu dimensi dari praxis. Selain filsafat analistis, Habermas juga dipengaruhi oleh para pemikir pragmatis Amerika, seperti Pierce, Mead, dan Dewey. Dari aneka tradisi filsafat yang melatarbelakangi ini, ia mencoba mengintegrasikannya sebagai suatu teori yang integral dan sistematis. Watak sistematis dari teori-teorinya itulah yang secara tajam membedakannya dari para pendahulunya yang terkenal sebagai antisistem.
Bidang-bidang yang menjadi pusat pengolahan Teori Kritisnya tidak terbatas hanya pada psikologi sosial ataupun ilmu-ilmu social seperti para pendahulunya. Pemahamannya mengenai praxis memungkinkannya untuk menyentuh wilayah-wilayah pengetahuan yang sebelumnya tidak disinggung oleh para pendahulunya. Tentang luasnya kemungkinannya mempelajari bidang-bidang itu, B. Thompson memujinya :
“Sebagai pemikir social terkemuka di Jerman dewasa ini, Habermas mengolah orientasi teoritis yang relevan bagi wilayah disiplin-disiplin yang luas, dari politik dan sosiologi ke filsafat, psikologi dan linguistic. Karnyanya menyatakan pemahaman yang menakjubkan atas berbagai tradisi intelektual dan kaya akan gagasan-gagasan orisinil….Habermas menonjol sebagai pemikir dengan bidang dan pandangan yang luas sekali”

Habermas juga tidak menutup mata terhadap perkembangan ilmu-ilmu sosial dewasa ini meskipun teori-teori itu berkembang dari tradisi pemikiran yang bagi intelektual Marxis kerap dicap sebagai “Ilmu-Ilmu Borjuis”. Misalnya, dengan minat yang cukup besar sebelum melontarkan kritiknya, ia mencoba menelaah teori fungsionalisme structural dan teori sistem Parsons. Perkembangan metodologi lainnya juga tidak ia lewatkan, misalnya diikutinya perkembangan dalam lapangan etnometodologi dan berbagai ilmu social fenomenologis dan hermeneutis. Dalam beberapa kesempatan ia terlibat dalam diskusi hangat dengan beberapa filsuf lain, antara lain dengan Gadamer.
Akhirnya melalui pengetahuan ensiklopedisnya, Habermas mengerjakan suatu Teori Komunikasi Masyarakat sebagai jalan baru bagi Teori Kritis. Pihak-pihak kiri yang memegang teguh “jalan konfliknya” pernah menuduhnya sebagai seorang Marxis yang “sesat” dan “bekerja” demi ilmu-ilmu borjuis. Tuduhan seperti ini dapat dipahami karena Habermas memberi tempat sentral bagi consensus di dalam kritik ideologinya. Dari sudut generasi pertama, Teori Komunikasi itu justru menjadi alasan yang selayaknya untuk menempatkan Habermas sebagai pembaharu. Bersama para sahabatnya (Clauss Offe, Alberch Wellmer, Klaus Eder, dan Rainer Dobert), pada tempatnyalah Habermas dipandang sebagai Generasi Baru Teori Kritis atau Generasi Kedua Teori Kritis.

b. Habermas dan Marxisme
Dalam konteks Marxisme pada umumnya, Habermas adalah seorang filsuf yang kritis terhadap pemikiran-pemikiran Marxis, bukan hanya Marxisme-ortodoks, melainkan juga Neo-Marxisme pada umumnya. Seperti para pendahulunya ia bermaksud menyesuaikan warisan Marxis dengan tuntutan-tuntutan zaman ini, dan lebih melakukan kritik karena bagi Habermas karya Marx ini merupakan kritik, dengan jalan tidak hanya dengan mengupas karya-karya Marx tetapi juga melakukan penafsiran ulang dari penafsiran yang dilakukan oleh para penganut aliran ini. Corak penafsiran Habermas bersifat ilmiah dan filosofis, ia berusaha mengeliminir ciri-ciri romantis dari pemikiran Marx yang secara dominan mempengaruhi Adorno, Hokheimer dan Marcuse. Hal ini ia lakukan dengan tujuan Habermas ingin memurnikan pemikiran-pemikiran Marxis dari romantisme maupun positivisme yang dianut oleh partai-partai komunis dan cendekia marxis lainnya.
Menurut Habermas, apabila Marx hanya sebagai ilmuwan belaka maka para penganut ajaran marxisme akan jatuh kepada sikap positivistis yang sekaligus bersifat ideologis, positivistis karena, mereka mengambil begitu saja pernyataan-pernyataan Marx yang sebenarnya tidak lagi memiliki relevansi bagi masyarakat dewasa ini, dan dengan cara seperti ini teori-teori Marx itu dipalsukan dan menjadi dogmatisme, dan ideologis karena pemikiran-pemikiran Marx akan digunakan sebagai legitimasi praxis politis yang kebal dari argument-argumen lawan. Ideologi adalah ide-ide yang dipercaya sebagai alasan tindakan akan tetapi tidak pernah efektif sebagai motif tindakan, alasan Habermas adalah karena menggerakkan kelompok sosial sebenarnya adalah motif yang sengaja disembunyikan dan lama kelamaan tidak disadari lagi sebagai motif
Di dalam tulisannya, Between Philosophy and Science : Marxism as Critique, ia memaparkan empat alasan histories mengapa konsep-konsep Marx di dalam kritik Ekonomi Politisnya tidak lagi relevan bagi keadaan zaman sekarang, yaitu :
1. Bahwa pemisahan negara dan masyarakat yang menandai periode kapitalisme liberal sudah tidak relevan lagi. Politik tidak lagi merupakan superstruktur seperti dikira Marx dan masyarakat sendiri tidak lagi dapat dipandang secara simplisistis sebagai hubungan antara basis ekonomi dan superstruktur politis.
2. Di dalam masyarakat kapitalisme lanjut, standar hidup sudah berkembang sedemikian jauh sehingga revolusi tak dapat dikobarkan secara langsung dengan istilah-istilah ekonomis, kelas-kelas social juga semakin terintegrasi di dalam keseluruhan masyarakat dan berbagai bentuk penindasan semakin tersamar dan terorganisasikan. Deprivasi yang dalam masyarakat kapitalis liberal dirasakan oleh kaum buruh, dewasa ini tidak hanya dirasakan oleh kelas tertentu saja. Dalam konteks itu, teori kelas tak dapat dijadikan dasar untuk membangun teori revolusioner.
3. Karena kondosi-kondisi semacam itu, kaum proletar tidak dapat dijadikan tumpuan harapan-harapan sebagai pengemban revolusi sejati. Perjuangan kelas dalam level Negara nasional telah distabilisasikan dan sebagai gantinya terjadilah persaingan keras antara “kubu kapitalis” dan “kubu sosialis”, pada level internasional.
4. Dengan bangkitnya Negara komunis Uni Soviet, diskusi sistematis sekitar Marxisme dipadamkan dan sebagai gantinya konsep-konsep Marxisme ortodoks membuktikan dirinya menjadi ideology. Jalan sosialis yang ditempuh Uni Soviet sendiri jauh dari kenyataan terwujudnya masyarakat bebas yang dicita-citakan oleh Karl Marx sendiri.

c. Kritik atas Rasionalisasi
Menurut Habermas, rasionalitas-yakni, kemampuan berpikir logis dan analitis-lebih dari sekedar kalkulasi strategis bagaimana mencapai beberapa tujuan yang telah dipilih. Alih-alih, rasionalitas merupakan sebentuk “tindakan komunikatif” yang diorientasikan untuk mencapai kesepakatan atau konsensus dengan orang lain. Jadi menurutnya,adalah suatu hal yang sangat penting bahwa dalam menggunakan bahasa berarti kita berpartisipasi di dalam apa yang menurut Habermas disebut “Situasi pembicaraan yang ideal” atau “komunikasi dialogis-emansipatoris bebas kekuasaan”. Dalam situasi seperti ini masyarakat akan mampu menghindari penggunaan klaim-klaim politik dan moral dan mendasarkan diri semata pada rasionalitas.
Dalam pandangannya Habermas mengukur rasionalitas itu dengan mengajukan kriteria tentang pandangan dunia terhadap dinamika sebuah masyarakat dan menjelaskan proses-proses belajar mana yang mengembangkannya. Jika Karl Marx menemukan adanya hubungan lurus antara perkembangan alat-alat produksi, terhadap masyarakat, namun bagi Habermas tak ada garis lurus antara perkembangan teknologi dengan pemahaman diri masyarakat, melainkan sebaliknya, yaitu perkembangan alat-alat produksi itu datang belakangan. Magnis-Suseno mencontohkan dengan keberadaan agama islam, bahwa agama islam itu tidak lahir karena adanya cara produksi masyarakat Arab waktu itu, melainkan karena terjadi perubahan politik dan ekonomi masayarakat Arab dalam abad ke-7 masehi. .
Di dalam karya-karya selanjutnya Habermas mengalihkan teori tindakan komunikatifnya pada domain politik dan hukum. Ia membela “demokrasi deliberatif”, dimana suatu hukum dan institusi pemerintah akan lebih menjadi sebuah refleksi dari diskusi publik terbuka dan bebas. Habermas mengasumsikan bahwa banyak kepercayaan barat,misalnya, legitimasi hak milik pribadi-mau tidak mau harus direvisi jika mereka terus menerus mempersoalkan diskusi yang tidak dipaksakan dan tidak dibatasi oleh persamaan dan kebebasan manusia. Dalam demokrasi, Habermas mengandaikan bahwa setiap orang, baik laki-laki dan perempuan, akan semakin menyadari perwujudan kepentingan mereka yang harus disertai dengan otonomi (self-governance) dan tanggung jawab, dan mereka hanya akan bersedia menyepakati sesuatu hanya jika argumen-argumennya bisa dinalar secara lebih baik.
Seperti anggota mazhab Frankurt lainnya, Habermas mengkritik bahwa masyarakat barat kontemporer nyata-nyata mempromosikan sebuah konsepsi rasionalitas terdistorsi yang mengandung impuls-impuls destruktif yang hanya berujung pada dominasi-sebagai contoh, dominasi sains dan teknologi atas alam. Teori Marx tidak relevan lagi untuk menganalisis situasi kapitalisme lanjut dimana ada peralihan dari kapitalisme privat ke kapitalisme Negara, dimana Negara yang ditopang oleh teknologi memeainkan peran yang signifikan untuk memperkuat dan mempertahankan industri-industri besar. Hal ini melemahkan otonomi dan kemampuan kritis masyarakat. Impuls ini, menurut mazhab Frankfurt, telah diepitomkan dalam cita-cita agung sejak zaman pencerahan abad ke-18. Namun Habermas juga merintis sebuah upaya untuk mempertahankan apa yang yang ia lihat sebagai aspek-aspek yang lebih konstruktif dan emansipatoris dari jaman pencerahan itu. Walaupun atas pikiran-pikirannya itu Habermas banyak mendapatkan kritik. Sebagian dari kritik-kritik itu mengklaim bahwa “situasi pembicaraan idealnya’ itu tidak dapat divalidasi oleh pengalaman praktis. Dengan begitu tetap tidak akan ada sebuah standar yang pas untuk menilai legitimasi hukum dan institusi. Ada juga yang mencermati bahwa teori demokrasi deliberatifnya muncul lebih menyerupai sebuah aturan bagi rasionalitas daripada aturan bagi manusia. Lebih dari filsuf pasca periode perang Jerman lainnya, bagaimanapun Habermas telah berhasil memposisikan gagasan-gagasan Mazhab Frankfurt ke tengah-tengah kancah arus utama perbincangan pemikiran kontemporer mutakhir.

d. Kritik atas Paham Positivisme
Konsep ilmu pengetahuan dan kepentingan adalah konsep sentral yang dikemukakan Habermas dalam melakukan kritikan terhadap paradigma psoitivisme, akibat klaim teori positivisme yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah bebas nilai, seperti halnya yang terjadi pada ilmu-ilmu alam. Para pendukung positivisme menganggap bahwa ilmu-ilmu sosial bersifat kontemplatif dan affirmatif, oleh karena itu metode yang dipakai ilmu-ilmu alam tidak berbeda dan dapat diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Artinya jika ilmu-ilmu sosial ingin diterima sebagai ilmu pengetahuan harus dapat menghasilkan hukum-hukum umum dan prediksi-prediksi ilmiah seperti didalam ilmu-ilmu alam.
Bagi positivisme sebuah riset sosial harus menghasilkan deskripsi dan penjelasan-penjelasan ilmiah yang tidak memihak dan tidak memberikan penilaian apapun. Seorang ilmuwan dan peneliti harus mampu meninggalkan rasa perasaannya, harapan-harapannya, keinginan-keinginannya dan penilaian-penilaian moralnya atau singkatnya segala kepentingannya itu untuk mendekati objek penelitian sosialnya sehingga diperoleh “pengetahuan Objektif” tentang kenyataan sosial atau fakta sosial.
Hokhiemer dan Adorno telah mengembangkan pendekatan kritis dan materialistik itu menjadi kritik menyeluruh terhadap masyarakat industri barat, semakin maju masyarakat industri modern menjadi masyarakat konsumsi berlimpah serta berhasil melarutkan pertentangan-pertentangan antar kelas sosial mengakibatkan masyarakat itu semakin bersifat total. Hal ini dalam pandangan teori kritis masyarakat sebagai akibat dari dominasi prinsip dasar kapitalisme yaitu prinsip tukar. Akan tetapi kekuasaan halus prinsip tukar itu juga semakin total sehingga setiap usaha-usaha untuk pembebasannyapun justru semakin memperkuatnya. Akibatnya Horkheimer dan Adorno bersikap semakin pesimistik. Berbeda dengan gaya berfilsafat Habermas yang tidak mengikuti gaya berfilsafat kedua gurunya yang pesimistik itu, habermas tidak pesimistik, ia tidak mencurigai teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Sebaliknya Habermas menganggap teknologi dan ilmu pengetahuan sebagai “aktor produktif terpenting” dalam bagian kedua abad ke-20. Dan untuk mengembangkan serta memantapkan teori kritis masyarakat secara teoritis justru memakai teori-teori ilmu pengetahuan yang paling canggih.
Refleksinya atas salah satu unsur terpenting teori kritis masyarakat klasik ialah hubungan antara perumusan teori dengan kepentingan ideologis yang berhasil membawa Habermas untuk membedakan antara ilmu-ilmu empiris di satu pihak dengan ilmu-ilmu historis hermeneutis di lain pihak. Menurutnya distorsi ideologis terjadi apabila kepentingan yang memberikan arah dasar kepada ilmu-ilmu empiris analitis yaitu kepentingan akan penguasaan alam, melimpah ke dalam wilayah ilmu-ilmu historis hermeneutis. Ilmu-ilmu historis hermeneutis sebenarnya didasari kepentingan akan komunikasi yang berhasil dan bukan penguasaan alam. Penemuan ini membawa keuntungan yang amat penting bagi Habermas, karena dengan temuan itu ia mampu membuktikan dimana letak kekurangnan fundamental dalam perspektif dasar Karl Marx.
Dalam Pandangan Karl Marx komunikasi antara manusia harus dipahami menurut model pekerjaan atau hubungan produksi, oleh karenanya Habermas berhasil menyumbangkan salah satu kritik fundamental pada pemikiran Karl Marx sekaligus keluar dari lingkaran pesimisme teori kritis masyarakat klasik. Sebab dalam pandangan Habermas setiap komunikasi menuntut kebebasan, maka di dalam kepentingan akan keberhasilan komunikasi ada kepentingan yang lebih fundamental lagi yaitu kepentingan-kepentingan dasar manusia akan emansipasi menyatakan diri. Oleh karena itu pendekatan monokausal sebagaimana diyakini oleh Karl Marx bahwa masyarakat yang sungguh-sungguh manusia adalah dapat dihasilkan dengan mengubah hubungan produksi menjadi gugur dan tidak dapat dipertahankan lagi. Begitu pula kekuasaan ideologis prinsip tukar atas masyarakat industri kapitalis tua yang membuat horkheimer dan adorno begitu pesimistik menjadi terkuak totalitasnya.
Dengan demikian pemikiran Habermas menjadi begitu multi dimensional, meskipun pendekatannya kritis dan materialistik, dan sekalipun ia masih berbicara tentang materialisme historis, akan tetap dalam kenyataannya ia telah meninggalkan kubu pemikiran marxisme. Orang-orang yang mengikuti perkembangan ilmu-ilmu sosial di barat tidaklah terkejut jika mendengar bahwa secara intelektual, marxisme dalam bentuk ortodoksnya sudah lebih dari setengah abad silam ditanggapi dengan sikap kritis.

e. Habermas sebagai Pembaharu Teori Kritis Melalui Paradigma Komunikasi dan Bahasa
Aksi komunikasi adalah sebuah bentuk interaksi yang tingkat keberhasilannya tergantung kepada ke dua belak pihak yang berinteraksi dalam mencapai persetujuan/kesepakatan dan saling pengertian, atau hubungan antara subyek dengan subyek (dialogis) dan bukan hubungan rasionalitas sasaran (monologis). Komunikasi dialogis ini masing-masing pihak berperan aktif, dimana semua pihak mengambil alih peran orang lain sehingga terjadi apa yang disebut Mead “ideal role-taking”. Pada komunikasi dialogis ini saling pengertian dapat tercapai, sehingga Habermas menamakan dengan Rasionalitas komunikatif. Teori Aksi komunikasi Habermas terbagi menjadi speech-act philosophy filsafat seni pembicaraan, sosiolinguistik, dan khususnya dari ide keterlibatan percakapan (the idea of conversational implicature ).
Menurut Habermas, interaksi antar manusia dapat dimediasikan secara simbolis lewat bahasa dan gesture tubuh yang ekspresif (mengandung makna) , sedangkan hakekat bahasa adalah komunikasi, dan komunikasi hanya mungkin dilakukan dalam keadaan saling bebas, karena tujuan komunikasi adalah menjalin saling pengertian, oleh karena itu rasionalitas dalam bahasa harus menjadi pusat perhatian. Komunikasi dalam bahasa akan berhasil jika memenuhi empat norma atau klaim yaitu:
e.1. Jelas, artinya orang dapat mengungkapkan dengan tepat apa yang dimaksud
e.2. Ia harus benar, artinya mengungkapkan apa yang mau diungkapkan
e.3. Ia harus jujur, jadi tidak boleh bohong
e.4. Ia harus betul, sesuai dengan norma-norma yang diandaikan bersama.
Dalam mencapai saling pengertian dalam komunikasi syarat yang harus dipenuhi adalah: inevitably / keinginan untuk melakukan pembicaraan bersama, dan adanya saling ketertarikan dalam melakukan komunikasi itu, sehingga persetujuan/pengertian itu dapat mencapai hasil maksimal.

f. Habermas dan Pandangan atas Agama
Habermas berargumen bahwa ada satu kemiripan tajam antara tipe-tipe tertentu dalam tradisi budaya Yahudi dengan idealisme Jerman, yang akarnya seringkali dipandang berasal dari Pietisme Protestan. Suatu kemiripan penting, yang krusial khususnya bagi pemahaman Teori Kritis, adalah ide Cabalistic lama bahwa tuturan, ketimbang gambar, adalah satu-satunya cara untuk mendekati Tuhan. Jarak antara agama bahasa Ibrani, bahasa sakral, dan tuturan profane dalam Kitab Pelarian (satu kitab dalam perjanjian lama) berimbas kepada orang yahudi yang tidak percaya kepada dunia wacana terkini. Hal ini karena sejalan dengan kritik idealis terhadap realitas empiris,yang mencapai puncaknya pada dialektika Hegelian. Meskipun orang tidak dapat membuat batas tegas antara para pendahulu yahudi di Mazhab Frankfurt dengan teori dialektikanya.
Habermas mengatakan, bahwa globalisasi terjadi karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, tetapi meskipun keadaan ini mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, kemampuan negara dalam memberikan kesadaran baru masyarakat itu sangat minim. Disinilah agama memegang peranan penting dalam sebagai peacemaker secara mental.

g. Habermas dan Ilmu Pengetahuan
Titik tolak kritikan Habermas terhadap ilmu pengetahuan berawal dari pandangan jika ilmu pengetahuan telah mengalami krisis sebagai ilmu pengetahuan, dan bahwa dalam kesulitan hidup dewasa ini, ternyata ilmu pengetahuan tidak memberikan nasehat apa-apa kepada masyarakat, artinya ilmu pengetahuan sepanjang dari praktek hidup sehari-hari.
Posisi teori dalam ilmu pengetahuan menduduki tempat penting untuk menjelaskan realitas karena pengetahuan dirumuskan kedalam dan diperoleh lewat teori. Dalam ilmu pengetahuan modern kata teori sudah kehilangan makna, oleh karena itu Habermas mengadakan penelitian genetik tentang konsep teori. Lalu ia kemudian mengembalikan konsep teori itu pada asal katanya “theoria” yang artinya kata ini sudah sangat tua dan berakar pada kosmologi dan tradisi religius yunani purba dengan melakukan kontemplasi seorang filsuf lalu memandang atau menatap kosmos yang bergerak teratur dan membuat lukisan-lukisan didalam dirinya. Dia meniru kosmos atau melakukan mimesis (meniru), dengan cara itu teori atau kontemplasinya itu mengarahkan tingkah lakunya .sampai pada tahap teori dalam pengertian kuno itu terkait dengan praxis. Dalam filsafat yunani Bios Theoritikos menunjukkan bahwa teori adalah salah satu cara hidup (way of life). Menurut habermas, konsep kuno itu menjadi dasar ontologi, dan dengan kontemplasi seorang filosof dapat memisahkan unsur-unsur yang tetap dan unsur-unsur yang selalu berubah. Usaha untuk menemukan yang tetap abadi dalam kosmos dan seluruh realitas itulah ontologi. Apa yang ingin dicapai ontologi adalah penjelasan objektif tentang seluruh realitas atau dengan kata lain teori murni. Dan satu hal yang menarik adalah bahwa Habermas mengaitkan usaha untuk memperoleh teori murni itu dengan proses emansipasi. (husser mengatakan bahwa krisis disebabkan ilmu pengetahuan tidak lagi menganut konsep klasik tentang teori itu, sebaliknya Habermas mengatakan sebaliknya bahwa krisis itu terjadi karena ilmu pengetahuan menganut konsep yang klasik itu.

Kesimpulan
Jurgen Habermas dengan Teori Kritisnya menawarkan pemahaman baru yang dikembangkan lewat masyarakat kritis emansipatoris. Semua pemikiran-pemikirannya sangat terlihat mengerucut pada keinginannya untuk menempatkan modernitas sebagai realitas empiris yang harusnya dapat memberdayakan kehidupan masyarakat, dan bukan sebaliknya. Untuk mencapai tujuannya membentuk masyarakat yang merdeka, independent, dan bebas dalam menentukan tujuan hidupnya sendiri, masyarakat harus melakukan komunikasi-komunikasi baik verbal maupun non-verbal (communication action) agar dicapai apa yang sebenarnya disebut kesadaran kolektif, yaitu dalam bentuk kesepakatan atau konsensus. Dengan demikian masyarakat tersadar bahwa sebenarnya mereka hidup diatas dunia yang penuh kepalsuan dengan menerima segala bentuk situasi sebagai keadaan yang tidak bias diubah, padahal jika masyarakat menyadarinya maka dengan sendirinya masyarakat akan menjadi entitas yang bebas untuk memperjuangkan emansipasinya sendiri seperti yang diinginkannya serta tidak terjebak dalam kepura-puraan modernisasi yang hanya berpihak pada satu sisi ansich.




































Daftar Bibliografi

1. Bertens, Habermas and Modernity, Oxford Basil Blackwell, 1985

2. Bertens, Filsafat Barat Abad XX: Inggris-Jerman, Jakarta, Gramedia, 1983

3. Eatwell, Roger and Anthony Wright (ed), Contemporary Political Ideologies Continuum, London and New York, 2001

4. Fauzi, Ibrahim Ali , Jurgen Habermas, Seri Tokoh Filsafat, Jakarta : Teraju, 2003

5. Habermas, Jurgen , Knowledge and Human Interest , Boston : Bacon Press, 1972

6. Habermas,Jurgen, The Theory of Communicative Action” jilid II (Boston : Beacon Press, 1984

7. Habermas, Jurgen, a Conversation about God and the World, Interview with Eduardo Mandieta, dalam Religion and Rationality : Essays on Reason, God and Modernity, Cornwall : MIT Press, 2002

8. Hardiman, Francisco Budi, Kririk Ideologi : Menyingkap Kepentingan Pengetahuan bersama JÜrgen Habermas, Yogyakarta : Buku Baik, 2004.

9. Jay, Martin, Sejarah Mazhab Frankfrut : Imajinasi Dialektis Dalam Perkembangan Teori Kritis, Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005

10. Lechte, John, 50 Filsuf Kontemporer : dari Strukturalisme Sampai Postmodernitas, diterjemahkan dari judul aslinya Fifty Key Contemporary Thinkers, Routledge, London and New York, 1994, oleh A. Gunawan Admiranto.Yogyakarta : Kanisius, 2001

11. Lubis, Akhyar Yusuf, Teori Kritis dan Psikologi Kritis, Diktat Ajar mata kulaih Filsafat Ilmu Pengetahuan Semester 2007/2008 Program Pascasarjana Psikologi UI

12. Lubis, Akhyar Yusuf, Setelah Kebenaran dan Kepastian dihancurkan Masih adakah Tempat Berpijak Bagi Ilmuwan : Sebuah Uraian Filsafat Ilmu Pengetahuan Kaum Posmodernis, Bogor : AkaDemia, 2004.

13. Magnis-Suseno, Franz, Pijar-Pijar Filsafat : dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme, Yogyakarta : Kanisius, 2005.

14. Niznik, Josef & John T. Sanders (Ed.), Memperdebatkan Status Filsafat Kontemporer Habermas, Rorty, dan Kolakowsky, Penerbit Qalam, Yogyakarta, 2002

15. Sim, Stuart(Ed.), The Routledge Companion to Postmodernism, Routledge, London and New York, 2001.

16. Thompson, JB.(Ed), Habermas : Critical Debates, London, The Macmillan Press, 1982

JURGEN HABERMAS DAN GLOBALISASI INFORMASI : sebuah kajian ledakan informasi sebagai pengetahuan emansipatoris masyarakat informasi dalam era digital

Oleh : Umar Falahul Alam


PENDAHULUAN
Dunia modernitas dengan segala konsekwensi perubahan di dalamnya menjadi realitas yang harus disikapi dengan arif. Adanya perubahan budaya dan tingkah laku yang terjadi dalam dinamika sosial dan masyarakat yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi menjadi sangat rasional, untuk itu dibutuhkan cara pandang yang benar, bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi dalam informasi dan komunikasi ini dapat menjadi wahana atau alat bantu yang sangat bermanfaat bagi komunitas masyarakat banyak.
Ilmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi. Sejak tahun 1700-an (abad pencerahan) dua narasi besar telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Narasi itu adalah, pertama, kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress). Mitos Politik ini menjustifikasi sains sebagai alat untuk kebebasan dan humanisasi. Sejak awal zaman modern, semua orang dianggap berhak untuk mendapatkan pengetahuan, meskipun pada kenyataannya ada rintangan-rintangan dari kaum agamawan, penguasa atau halangan dari kaum laki-laki terhadap perempuan. Melalui ilmu pengetahuan manusia bangkit untuk mengembangkan diri dan meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan. Dan yang ke dua, narasi yang bersifat filosofis, menggambarkan bahwa “subyek” yang sadarlah (cogito) dan bukan manusia dalam bentuknya yang utuh yang sesungguhnya memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan itu. Dalam pandangan modern, ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dengan demikian ilmu tidak boleh dimuati bias subyektivitas, nilai-nilai moral atau kepentingan tertentu. Ke dua mitos ini menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan modern.
Jean Baudrillard mengemukakan terjadinya perubahan besar dari model mekanis, produksi metalurgi ke suatu industri informasi dan dari produksi ke konsumsi sebagai fokus utama ekonomi. Era di mana berbagai perspektif media baru cenderung mengaburkan perbedaan tajam antara realitas dan fantasi (simulacra), sehingga meruntuhkan suatu keyakinan pada suatu realitas obyektif. Dikotomi modern tentang suatu realitas obyektif versus citra (images) atau citra-citra subyektif sedang diruntuhkan dan digantikan dengan suatu hiperealitas “self-referential signs” (tanda-tanda referensi diri). Pemikir postmodern menggantikan konsepsi tentang adanya suatu realitas independent dari pengamat (observer) dengan mengajukan gagasan keterkaitan subyek dengan dunia (subyek dengan obyek). Lalu bahasa dilihat bukan sekedar bersifat denotative (logosentrisme), bahasa tidak hanya penting dengan fungsi logis/epistemologisnya saja. Pembahasan tentang bahasa berkenaan dengan bagaimana hubungan antara penelaran, makna,kebenaran dan bahasa. Dalam masa pencerahan “rasio” menjadi lambang pengetahuan, sumber kepastian dan dasar bagi kekuasaan. Ini yang kemudian oleh Habermas disebut dengan “Rasio Instrumental” (pengetahuan menjadi alat kekuasaan). Rasio bukan lagi sekedar membedakan manusia dengan binatang (mahkluk infrahuman) akan tetapi membedakan orang berkuasa (orang pintar) dengan rakyat kecil yang dianggap tidak rasional dan bodoh.

GLOBALISASI DAN LEDAKAN INFORMASI
Globalisasi merupakan sebuah istilah yang berhembus kencang sejak tahun 1980-an. Mittleman mengartikan globalisasi sebagai fenomena dunia luas, globalisasi adalah bergabungnya perkembangan suatu negara dan struktur lokal dengan negara lain. Di satu sisi globalisasi telah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Ada kekhawatiran bahwa kekuatan globalisasi itu tidak dapat dibendung dan bahwa dampaknya sangat merugikan. Rasa ketakutan seperti ini sering disebut dengan globaphobia. Di sisi yang lain globalisasi dipandang sebagai kemajuan peradaban yang harus dibuat untuk membuat tatanan dunia yang lebih baik dan bermanfaat, karena terdapat gejala saling ketergantungan antar negara dan saling adanya keterkaitan masalah bersama.
Globalisasi dimulai karena adanya kemajuan teknologi dalam bidang komunikasi, informasi dalam pacu yang sangat menakjubkan dan menggairahkan gaya hidup masyarakat yang serba digital, fakta ini seolah menegaskan, bahwa masyarakat dunia telah memasuki era baru yang serba mobile, praktis, dan sangat personal. Dan internet sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menghilangkan semua batas-batas fisik yang memisahkan manusia dan menyatukannya dalam dunia baru, yaitu dunia “maya”. Tentang hal ini Habermas mengatakan bahwa globalisasi terjadi karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, tetapi meskipun keadaan ini mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, kemampuan negara dalam memberikan kesadaran baru masyarakat itu sangat minim.
Globalisasi informasi itu timbul sebagai kekuatan raksasa yang mampu mengeliminir dan menciutkan ruang dan waktu akibat mengglobalnya perekonomian dunia. Berkaitan dengan arus informasi global, siapapun tidak dapat menolak kenyataan akan mengglobalnya arus informasi yang terakses, sehingga membentuk ranah yang disebut dengan masyarakat informasi global, Menurut Beni terdapat lima determinan atau faktor penentu pembentuk masyarakat informasi :
 Pertama, kemajuan dalam bidang pendidikan
 Kedua, adanya perubahan dalam karakteristik pola kerja. Evolusi dalam pola kerja membuat orang mencari informasi atau pengetahuan tentang cara-cara paling efisien, efektif, praktis dan mudah untuk melakukan suatu pekerjaan
 Ketiga, adanya perubahan dakam penyebaran pengetahuan dari cara primitif dari mulut ke mulut sampai pada penggunaan super canggih, komputer.
 Keempat, adanya perubahan dalam cara-cara orang mencari pengetahuan
 Kelima, adanya kemajuan dalam penciptaan alat-alat (tools) untuk menyebarkan dan mengakses pengetahuan baru.
memang dalam hal-hal tertentu terdapat limitasi/pembatasan akses khusus, sehingga suatu informasi tidak dapat diakses oleh orang lain atau masyarakat banyak semisal untuk proteksi data tertentu atau jika menyinggung dengan masalah hukum privat. Peningkatan aplikasi teknologi informasi dan komunikasi atau yang dikenal pula dengan Information and Communication Technology (ICT), khususnya melalui kegiatan telekomunikasi secara terus-menerus merupakan dasar bagi terbentuknya masyarakat informasi. Menurut Martin, masyarakat informasi adalah suatu keadaan masyarakat dimana kualitas hidup, prospek untuk perubahan sosial dan pembangunan ekonomi tergantung pada peningkatan informasi dan pemanfaatannya. Sehingga masyarakat yang mendapat kesempatan dan akses informasi secara cepat dan tepat akan jauh lebih maju dibandingkan masyarakat yang ketinggalan informasi. Bahkan menurut Putu L. Pandit, misi utama masyarakat informasi adalah mewujudkan masyarakat yang sadar tentang pentingnya informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, terciptanya suatu layanan informasi yang terpadu, terkoordinasi dan terdokumentasi serta tersebarnya informasi ke masyarakat luas secara cepat, tepat dan bermanfaat. Barangkali konsep inilah yang mendasari persamaan dengan persepsi Habermas jika teknologi informasi merupakan kelanjutan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sesuai dengan apa yang dia sebut sebagai emansipasi modernitas.

Pentingnya Literacy Informasi dalam komunikasi emansipatoris
Komunikasi emansipatoris akan dapat berjalan dengan baik, apabila terdapat hubungan yang sinergis antara penyedia berita (provider) dan penerimanya. Ketidaktahuan seseorang untuk memanfaatkan informasi yang didapatkannya ataupun ketidakmampuan provider memberikan pintu akses informasi seluas-luasnya akan membuat hubungan ini menjadi pincang. Maka, seseorang akan disebut literate informasi apabila ia memiliki kemampuan akan dasar-dasar yang dibutuhkan untuk mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang bervariasi, baik tercetak maupun elektronik, untuk mendapatkan apa yang dinginkannya kapan saja. Orang yang literate informasi adalah orang yang tercerahkan oleh informasi dan dapat membuat sebuah keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapinya dengan benar serta penuh percaya diri. Komite ALA untuk literasi informasi (1989), merekomendasikan bahwa untuk menjadi literate informasi, seseorang harus dapat mengenali kapan informasi itu dibutuhkan dan memiliki kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkannya itu secara efektif. Selain itu tentunya juga dibutuhkan beberapa skill/kemampuan dasar dari seseorang, dan skill utama yang dibutuhkan adalah pemahaman seseorang dalam menganalisa kebutuhan-kebutuhan informasi, dan pemahamannya dimana sumber-sumber informasi itu berada.
Secara lebih jauh, menurut Chowdhury kemampuan literacy informasi berguna untuk :
1. Mengenali kebutuhan informasi dan menentukan informasi yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah dan dalam membuat keputusan
2. Mengidentifikasi sumber-sumber informasi yang potensial baik dalam format tercetak maupun elektronik
3. Melakukan strategi pencarian yang diperlukan untuk menerima informasi dengan menggunakan teknologi dan peralatan yang tersedia
4. Merevieu, memilih, menafsirkan dan mengevaluasi informasi yang relevan secara kritis dan untuk membuat penafsiran informasi
5. Mengolah dan menyajikan informasi secara efektif dan kreatif
6. Menilai proses dan hasil dari pencarian informasi
7. Meningkatkan kemampuan membaca informasi dan minat/pleasure
8. Meningkatkan kemampuan secara kontinyu dan memperbaharui pengetahuan yang dimiliki
9. Mendemonstrasikan inisiatif dalam pemecahan masalah dalam informasi dan bersikap terbuka untuk belajar
10. Bekerjasama dalam memecahkan masalah-masalah informasi dengan orang lain.
Secara umum literasi mengandung nilai manfaat yang berlebih, paling tidak terdapat lima manfaat kemampuan literasi bagi manusia, menurut Kevin McGarry manfaat-manfaat itu bisa bernilai :
1. bernilai ekonomi : kemampuan literacy memfasilitasi nilai ekonomi dari pemilik literasi dan memaksimalkan apa yang dibutuhkan masyarakat di mana dia berada, penulis seperti Anderson mengatakana bahwa suatu dasar literasi itu diperlukan untuk menuju apa yang dia sebut “tinggal landas ekonomi” dalam masyarakat yang sedang berkembang.
2. bernilai survival, contoh : bahaya disekitar pada kasus seorang ibu yang tidak bisa membaca resep di botol obat bagi anaknya yang sedang sakit.
3. bernilai personal-sosial : adanya kepercayaan diri yang tumbuh karena memiliki kemampuan literasi
4. memiliki banyak akses terhadap suatu variasi dari sudut pandang yang terkait dengan kebijakan sosial ekonomi, sehingga meningkatkan potensi dan partisipasinya dalam hubungan masyarakat
5. memiliki unsur komponen bahasa, penggunaan bahasa sebagai alat untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan dan modernisasi
Bekaitan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini, kemampuan individu untuk melek atau literat informasi sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan teknologi informasi, terminology ini selain berlaku secara individual, juga berlaku untuk sistem pendidikan dan pengajaran bahkan dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Skill teknologi informasi ini bisa saja berarti kemampuan seseorang dalam teknik penggunaan komputer, software, database, dan teknologi lainnya dalam meningkatkan tujuan dan keinginannya.
Sejauh ini signifikansi literasi informasi yang selalu dikaitkan dengan dasar-dasar kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menggunakan teknologi informasi, tidak diragukan lagi. Setidaknya, sebuah laporan penelitian tentang literasi informasi dari “the National Research Council” mengungkapkan bahwa konsep "fluency" dengan teknologi informasi dan komunikasi ini menunjukkan signifikansi yang jelas dalam menjelaskan hubungan antara information literacy, computer literacy, dengan kemampaun seseorang dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi. Lebih jauh laporan tersebut mengungkapkan bahwa literasi komputer itu lebih menekankan pada pemahaman secara spesifik dalam menggunakan dan memahami hardware dan software, sedangkan fluency dengan teknologi memfokusan pada pemahaman tentang konsepsi teknologi dan kemampuannya menangani kebutuhan informasinya sebagai problem-solving dan cara berpikir kritis dalam menggunakan teknologi, laporan itu juga mendiskusikan bahwa literasi informasi memfokuskan perhatiannya pada content, komunikasi, analisis, pencarian informasi dan mengevaluasinya. Sedangkan Kepiawaian dalam teknologi informasi memfokuskan pada seberapa jauh memahami penerapan teknologi dan kemampuannya dalam menggunakan teknologi tersebut.

Perpustakaan dan dialog emansipatoris pengguna
Perkembangan perpustakaan dalam beberapa tahun terakhir terasa begitu pesatnya. Dari penerapan sistem konvensional, otomasi, sampai sekarang muncul istilah perpustakaan digital. Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, perpustakaan menunjukkan pula perubahan paradigmanya, yang semula dikenal sebagai tempat atau gudang buku, kemudian bergeser lagi menjadi suatu tempat pusat sumber informasi, kini berkembang lagi menjadi pusat sumber daya informasi, sampai pada suatu cita-cita bahwa perpustakaan tidak saja sebagai agen perubahan (agent of change), tetapi lebih jauh perpustakaan ini sebagai tempat yang akan melahirkan kaum intelektual yang menghasilkan karya-karya yang berasal dari informasi yang berada di perpustakaan.
Perpustakaan sebagai wadah yang menyediakan berbagai referensi dan koleksi sumber informasi merupakan sentral rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, peneliti, dosen maupun kaum akademisi. Perpustakaan umum memiliki tugas menyediakan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang telah meninggalkan bangku sekolah. Pentingnya perpustakaan umum disadari oleh Unesco sehingga Unesco mengeluarkan manifesto perpustakaan umum yang menyatakan perpustakaan umum sebagai lembaga yang terbuka bagi siapa saja dengan tidak memandang perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan, warna kulit, kepercayaan. Selain itu perpustakaan juga dapat menjadi tempat pleasure bagi pengguna yang ingin berekreasi di alam maya. Dewasa ini perpustakaan mulai disentuh oleh kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi/ICT (information and communication Technology) yang dapat memberikan pelayanan berlebih pada pengguna dengan kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang serba cepat dan akurat sejak mulai pendaftaran anggota, peminjaman, pengembalian, maupun dalam pencarian informasi yang dibutuhkannya.
Yang menjadi masalah ironis yang tidak dapat diabaikan terletak pada kondisi sosial budaya masyarakat. Penerapan dan penggunaan teknologi informasi lebih banyak berorientasi pada situasi kota-kota besar, masyarakat yang berada di pedalaman pengaruh mengglobalnya teknologi informasi masih banyak menghadapi kendala, sehingga ada kesenjangan informasi antara daerah yang sudah mapan dengan daerah yang belum mapan. Kesenjangan informasi ini akan menimbulkan kemiskinan informasi dalam arti masyarakat tidak dapat mengakses informasi serta tidak memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan, maupun kebutuhan lainnya. Disinilah perpustakaan sebagai lembaga yang memiliki otoritas menyebarkan informasi mengemban tugas mulia berupa mengurangi kemiskinan informasi. Kemiskinan tersebut dapat dikurangi antara lain dengan mendayagunakan teknologi informasi walaupun kemiskinan informasi tidak dapat dilenyapkan sama sekali karena pada dasarnya di dunia ini selalu ada kemiskinan. Oleh karena itu harus ada kesepakatan untuk melakukan sinergi, atau dalam istilah Habermas membutuhkan consensus agar masing-masing dapat melakukan kewajiban-kewajibannya dan mendapatkan hak-hak asasinya sebagai insan masyarakat yang berpengetahuan dan informated.
Bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa informasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan sekarang ini. Laju perkembangan informasi sendiri ditentukan oleh dua hal, yaitu adanya pengelolaan informasi yang baik dan efektifnya kegiatan tukar-menukar informasi. Untuk itu perpustakaan sebagai induk informasi yang memiliki berbagai macam jenis dokumen baik tercetak seperti buku, jurnal, reprint, dan sebagainya atau dalam bentuk elektronik seperti audio ataupun audio visual, mau tidak mau harus mengolah informasi yang dimilikinya secara maksimal agar mudah dalam menyimpan dan menemukannya kembali disaat dibutuhkan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, internet dan elektronika, perpustakaan dapat meluaskan ranah pelayanannya dengan cara membentuk apa yang disebut sebagai Digital Library, atau Perpustakaan Digital. Layanan ini bertumpu pada sebuah sistem yang memiliki berbagai pelayanan dan obyek informasi yang mendukung pemakai yang menggunakan informasi tersebut melalui perangkat digital atau elektronik. Maka perpustakaan umum digital memiliki tugas menyediakan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang telah meninggalkan bangku sekolah. Pentingnya perpustakaan umum disadari oleh Unesco sehingga Unesco mengeluarkan manifesto perpustakaan umum yang menyatakan perpustakaan umum sebagai lembaga yang terbuka bagi siapa saja dengan tidak memandang perbedaan usia, jenis kelamin, pekerjaan, warna kulit, kepercayaan.
Dengan merujuk pada definisi jaringan informasi, maka perpustakaan digital memiliki peluang untuk pengembangan jaringan informasi yang relatif lebih baik dari jaringan informasi yang pernah ada sebelumnya. Selain itu, dengan perpustakaan digital dapat lebih memungkinkan terwujudnya kerjasama antar perpustakaan secara lebih luas. Bahkan dengan perpustakaan digital siapapun dari tempat manapun akan dapat lebih mudah untuk mengetahui koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan yang jauh dari jangkauan tempat tinggalnya. Adapun dengan terbentuknya jaringan kerjasama antar perpustakaan digital akan lebih memungkinkan lagi terwujudnya penyebaran dan pemanfaatan informasi secara lebih luas, yang pada gilirannya akan mempengaruhi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada suatu masyarakat.
Dewasa ini berkembang pesatnya ICT, dan khususnya www, telah memberikan ruang akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat di seluruh dunia, keadaan ini juga terjadi dalam dunia perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, perpustakaan asosiasi professional dengan berramai-ramai mempopulerkan dan mendirikan perpustakaan digital. Tujuan utama perpustakaan digital adalah adanya dorongan kemajuan ICT yang memberikan perubahan signifikan dalam menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi. Beberapa dekade yang lalu masyarakat hanya dapat mengandalkan koleksi tercetak dengan cara membelinya di toko buku. Otoritas penerbit sangat besar dalam menyebarkan informasi-informasi itu, dan perpustakaan menjadi kolega bisnis serta berperan besar. Namun dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi maka mulai timbul paradigma baru bahwa ketersediaan informasi dapat diakses dimana saja, kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu (borderless).
Maka untuk memperoleh pemanfaatan yang maksimal perlu dibentuk semacam consensus dan saling pengertian kedua belah pihak (perpustakaan dan masyarakat pengguna), agar tidak terjadi tumpang tindih atau kesimpangsiuran informasi, di satu pihak perpustakaan berperan dalam usaha memberikan informasi yang benar dan dibutuhkan masyarakat pengguna dan sebaliknya masyarakat pengguna akan mendapatkan kemudahan-kemudahan akses terhadap informasi yang benar-benar dibutuhkannya. Hal yang dilakukan adalah perpustakaan memberikan kemudahan akses informasi dan masyarakat pengguna mengimbanginya dengan meningkatkan kemampuannya sehingga konsep literasi informasi dapat terwujud.

KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan sebagai emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk proses humanisasi. Meskipun ilmu pengetahuan selalu bisa ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik namun informasi sebagai basis ilmu pengetahuan telah mencapai derajatnya sendiri dan berada di titik jenuh (grey literature) akibat membanjirnya berbagai macam informasi di era digital dewasa ini.
Sebagai dampak globalisasi, internet sebagai salah satu tiang pancang penanda kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyatukan berbagai macam ledakan informasi itu dengan masyarakat luas dalam dunia baru, dunia “maya”. Terjadinya globalisasi ini menurut Habermas karena adanya kepentingan pasar antar industri transnasional, yang mampu membuat infrastruktur baru secara sosial kepada masyarakat, namun ternyata tidak dibarengi dengan kemampuan sebuah negara dalam memberikan kesadaran baru (consciousness) terhadap masyarakat. Adanya kesenjangan masyarakat secara sosial dan ekonomi menunjukkan jika masyarakat sangat terkooptasi dan menjadi sangat personal.
Terlepas dari itu, informasi merupakan salah satu kebutuhan mendasar dan penting dalam kehidupan sekarang ini, dan menentukan status seseorang dalam masyarakat, karenanya informasi tersebut perlu ditunjang dengan perangkat komunikasi yang baik, dan melibatkan emansipasi masyarakat. komunikasi emansipatoris ini akan dapat berjalan dengan baik, apabila terdapat hubungan yang sinergis antara penyedia berita (provider) dan penerimanya. Seperti halnya perpustakaan, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tujuan utama perpustakaan yaitu menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi, dapat ditingkatkan secara signifikan.
Masyarakat pengguna yang mengimbangi dengan meningkatkan pengetahuannya dan menjadi literate informasilah yang akhirnya dapat meruntuhkan tembok-tembok kebodohan dan penindasan itu. Ketidaktahuan masyarakat sebenarnya terletak pada kurangnya komunikasi yang emansipatoris antara penyedia informasi atau informasi itu sendiri dengan masyarakat di pihak lain. Jika sinergitas antara informasi dan masyarakat dapat dibentuk, maka masyarakat akan dapat menentukan kehidupannya sendiri dengan jelas tanpa ada pembodohan dari pihak lain, disinilah disimpulkan bahwa masyarakat yang tercerahkan dengan informasi akan mampu melangsungkan kehidupannya dengan baik.










DAFTAR BIBLIOGRAFI

1. Beni, Romanus, Transisi Masyarakat Indonesia : Suatu Pemikiran Awal, dalam Sekapur Sirih Pendidikan Perpustakaan di Indonesia, 1952-2002, Editor Sulistyo-Basuki, Jakarta : Kompas, 2002
2. Chowdhurry, G.G., and Sudatta Chowdhury, “Searching CD-ROM and Online Information Sources”, London : Library Association Publishing, 2001
3. Habermas, Jurgen, a Conversation about God and the World, Interview with Eduardo Mandieta, dalam Religion and Rationality : Essays on Reason, God and modernity, Cornwall : MIT press, 2002
4. Lubis, Akhyar Yusuf, Dekonstruksi Epistemologi Modern : Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, hingga Cultural Studies, Jakarta : Pustaka Indonesia Satu, 2006
5. Lubis, Akhyar Yusuf, Setelah Kebenaran dan Kepastian dihancurkan Masih Adakah Tempat Berpijak bagi Ilmuwan ; Sebuah Uraian Filsafat Ilmu Pengetahuan Kaum Posmodernis, Bogor:AkaDemia, 2004
6. Martin, William J., “The Global Information Society”, Hampshire:Aslib Gower, 1995
7. McGarry, Kevin, Literacy, Communication and Libraries, London : Library Association Publishing,1991
8. Mittleman, J.H.,”Globalization : Critical Reflection”. Boulder and London: Lynne Reinner Publishers, 1996
9. Sutarno NS, Tanggung Jawab Perpustakaan : Dalam Mengembangkan Masyarakat Informasi, Jakarta : Panta Rei, 2005
10. National Research Council.Commission on Physical Sciences, Mathematics, and Applications. Committee on Information Technology Literacy, Computer Science and Telecommunications Board. Being Fluent with Information Technology. Publication. (Washington, D.C.: National Academy Press, 1999) http://www.nap.edu/catalog/6482.html, diakses tanggal 10 Nopember 2007.

DIGITALISASI PERPUSTAKAAN, ANTARA KONSEP PROFIT, NON-PROFIT DAN NOT FOR PROFIT

DIGITALISASI PERPUSTAKAAN, ANTARA KONSEP PROFIT, NON-PROFIT DAN NOT FOR PROFIT

Oleh : Umar Falahul Alam

Program Pascasarjana Ilmu Perpustakaan

Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya

Universitas Indonesia

Pendahuluan

Perpustakaan sebagai wadah yang menyediakan berbagai referensi dan koleksi sumber informasi merupakan sentral rujukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, peneliti, dosen maupun kaum akademisi. Selain itu perpustakaan juga dapat menjadi tempat pleasure bagi pengguna yang ingin berekreasi di alam maya. Dewasa ini perpustakaan mulai disentuh oleh kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi/ICT (information and communication Technology) yang dapat memberikan pelayanan berlebih pada pengguna dengan kemampuannya dalam memberikan pelayanan yang serba cepat dan akurat sejak mulai pendaftaran anggota, peminjaman, pengembalian, maupun dalam pencarian informasi yang dibutuhkannya.

Dengan berbantukan ICT ini juga pustakawan sangat terbantukan dalam melaksanakan house keeping sebagai tugas harian serta dalam memberikan informasi yang serba cepat dan akurat kepada pencari informasi. Dengan begitu bahan pustaka yang tertulis, tercetak dan terekam terbentuk menjadi pusat sumber informasi yang sistematis dan otomatis untuk dayagunakan bagi keperluan pendidikan, penelitian dan rekreasi intelektual pengguna.

Bukan hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa informasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dalam kehidupan sekarang ini. Laju perkembangan informasi sendiri ditentukan oleh dua hal, yaitu adanya pengelolaan informasi yang baik dan efektifnya kegiatan tukar-menukar informasi. Untuk itu perpustakaan sebagai induk informasi yang memiliki berbagai macam jenis dokumen baik tercetak seperti buku, jurnal, prosiding, dan sebagainya atau dalam bentuk elektronik seperti audio ataupun audio visual, mau tidak mau harus mengolah informasi yang dimilikinya secara maksimal agar mudah dalam menyimpan dan menemukannya kembali disaat dibutuhkan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, internet dan elektronika, perpustakaan dapat meluaskan ranah pelayanannya dengan cara membentuk apa yang disebut sebagai Digital Library, atau Perpustakaan Digital. Layanan ini bertumpu pada sebuah sistem yang memiliki berbagai pelayanan dan obyek informasi yang mendukung pemakai yang menggunakan informasi tersebut melalui perangkat digital atau elektronik.

Referensi digital dalam perpustakaan menjadi sangat penting dewasa ini, karena dimungkinkannya seseorang mengakses nya lewat internet. Kemajuan dalam dunia cyber/maya telah memungkinkan seseorang melakukan berbagai aktivitas yang terkoneksi dengan perpustakaan dalam melakukan akses berbagai informasi darimanapun, kapanpun dan informasi apapun itu dengan aman dan nyaman. Itulah mengapa banyak sekali universitas yang mulai mendigitalisasikan koleksi-koleksinya. Sebagai contohnya, belum lama ini, yaitu pada tanggal 8 Nop 2007, Universitas Mulawarman bekerjasama dengan universitas wegeningen mengadakan pelatihan :Training On Digital and Virtual Library For Integrated Coastal Resources Management”, yang memberikan cara, teknik dan metode membuat perpustakaan digital, menggunakan software dan aplikasi mengaplikasannya dalam internet.[1]

Pengertian Digitalasi

Ada beberapa istilah yang digunakan dalam memberikan pengertian perpustakaan digital, seperti perpustakan elektronik, perpustakaan maya, perpustakaan hyper, atau perpustakaan tanpa dinding. Tetapi pada dasarnya, baik perpustakaan konvensional maupun perpustakaan digital itu memiliki esensi yang sama, yaitu sebagai pusat informasi dan menyebarkan informasi itu seluas-luasnya kepada pengguna, yang membedakannya terletak pada proses dan prosedur kerjanya, ialah manual dan berbasis komputer dan internet.

Perpustakaan Digital adalah sebuah perpustakaan yang dalam memberikan layanan dan informasi yang dimilikinya melalui perangkat digital. Lahirnya perpustakaan digital di Indonesia ini disambut baik para pengelola informasi atau pustakawan.

Menurut Sulistyo Basuki (1991), jaringan Informasi adalah suatu sistem terpadu dari badan-badan yang bergerak dalam bidang pengolahan informasi, seperti perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat analisis informasi, dan pusat informasi dengan tujuan menyediakan pemasukan data yang relevan tanpa memperhatikan bentuk maupun asal data untuk keperluan masyarakat pemakai.

Dengan merujuk pada definisi jaringan informasi, maka perpustakaan digital memiliki peluang untuk pengembangan jaringan informasi yang relatif lebih baik dari jaringan informasi yang pernah ada sebelumnya. Selain itu, dengan perpustakaan digital dapat lebih memungkinkan terwujudnya kerjasama antar perpustakaan secara lebih luas. Bahkan dengan perpustakaan digital siapapun dari tempat manapun akan dapat lebih mudah untuk mengetahui koleksi yang dimiliki oleh suatu perpustakaan yang jauh dari jangkauan tempat tinggalnya. Adapun dengan terbentuknya jaringan kerjasama antar perpustakaan digital akan lebih memungkinkan lagi terwujudnya penyebaran dan pemanfaatan informasi secara lebih luas, yang pada gilirannya akan mempengaruhi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada suatu masyarakat.

Kebanyakan pustakawan terbuka terhadap perubahan teknologi, tetapi juga masih mengingat fungsi tradisional mereka, yaitu membantu orang untuk mencari informasi,baik dalam bentuk digital atau tercetak. Sosialisasi program perpustakaan digital terhadap para anggota jaringan dan para pengguna itu penting. Dalam hal ini, perlu peningkatan kesadaran akan fungsi utama mereka, yaitu memberikan kemudahan akses pengguna terhadap informasi. Untuk mempermudah akses,pustakawan perlu mendorong pengguna perpustakaan digital untuk melek informasi (information literate). Pengguna perpustakaan yang seperti ini adalah mereka yang sadar kapan memerlukan informasi dan mampu menemukan informasi, mengevaluasinya, danmenggunakan informasi yang dibutuhkannya itu secara efektif dan beretika.

Mengapa Perlu Digitalisasi

Dewasa ini berkembang pesatnya ICT, dan khususnya www, telah memberikan ruang akses informasi seluas-luasnya bagi masyarakat di seluruh dunia, keadaan ini juga terjadi dalam dunia perpustakaan, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan nasional, perpustakaan asosiasi professional dengan beramai-ramai mempopulerkan dan mendirikan perpustakaan digital.

Tujuan utama perpustakaan digital adalah adanya dorongan kemajuan ICT yang memberikan perubahan signifikan dalam menyalurkan, mengakses dan menggunakan informasi. Beberapa dekade yang lalu masyarakat hanya dapat mengandalkan koleksi tercetak dengan cara membelinya di toko buku. Otoritas penerbit sangat besar dalam menyebarkan informasi-informasi itu, dan perpustakaan menjadi kolega bisnis serta berperan besar. Namun dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi maka mulai timbul paradigma baru bahwa ketersediaan informasi dapat diakses dimana saja, kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu (borderless). Paling tidak, ada beberapa keuntungan yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat informasi, yaitu :

a. Dalam segi Layanan

Dalam hal pelayanan pengguna secara manual tradisional waktu yang dibutuhkan untuk melayani 1 orang pengguna jasa perpustakaan dalam pelayanan sirkulasi kurang lebih 3 sampai dengan 5 menit. Sedangkan, apabila menggunakan sistem komputer dibutuhkan waktu kurang dari 30 detik. Hal ini mengindikasikan bahwa perpustakaan yang masih menggunakan sistem konvensional kurang optimal dalam hal pelayanan. Salah satu jawaban atas permasalahan tersebut adalah adanya suatu aplikasi program perpustakaan yang serba komputer (perpustakaan digital). Digitasi perpustakaan merupakan salah satu jawaban terhadap pelayanan sirkulasi dan pelayanan informasi yang selama ini dikeluhkan masyarakat pengguna jasa perpustakaan.

b. Dalam segi Ketersediaan Informasi

Menurut Stanley Chodorow, salah satu hal yang membedakan perpustakaan pada era elektronik dengan sebelumnya adalah bahwa perpustakaan-perpustakaan yang besar sekalipun tidak pernah mampu mengoleksi semua koleksi-koleksi tercetak (baik buku maupun periodical), perpustakaan-perpustakaan besar itu hanya mampu membeli sebagian kecil saja dari total koleksi tercetak yang dibuat pengarang. Dalam era elektronik ini peranan pustakawan telah berubah, dahulu dapat dikatakan bahwa peranan pustakawan dalam menyediakan informasi-informasi pengetahuan begitu besar, sekarang para pustakawan telah kehilangan peranan itu, disebabkan dewasa ini kita dapat melihat informasi-informasi secara langsung dengan internet.[2]

c. Biaya yang dapat diminimalisir

Hampir semua perpustakaan berada dibawah kondisi “under pressure” karena meningkat dan melonjaknya harga jurnal, Penelitian Mllon Foundation menggambarkan bahwa antara tahun 1970-2000 perpus Perguruan Tinggi mengalami ketidakmampuannya dalam membeli jurnal-jurnal baru hingga 90% dari sebelumnya. Perpustakaan umum di negara bagian California juga mengalami kemerosotan dalam hal jumlah jam layanannya, dari tiap seratus kepala keluarga berkurang kunjungannya lebih dari 50 jam dari tahun 1977 sampai tahun 1993.[3]

Sistem elektronik (komputerisasi) telah menawarkan cara agar perpus dapat meningkatkan layanannya disatu pihak dengan meminimalisir biaya di lain pihak. Seperti, mesin fax, tidak dapat dipungkiri telah membuat perpus lebih praktis dalam membeli kopian dari artikel tertentu atau yang dipesan. Tetapi dengan penyimpanan secara digital akan lebih memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dan ekonomis. Dan meskipun otomatisasi perpustakaan dalam memberikan layanan informasi terpasang memberikan kemudahan terhadap penggunan, namun perpustaaan digital lebih jauh memberikan peluang kemudahan akses terhadap informasi. Ketika pangkalan data secara full text itu telah tersedia, maka hanya lewat beberapa huruf atau frase saja, tulisan itu dapat diperoleh dengan segera, dan cepat oleh pengguna.

Penyimpanan secara digital berarti bahwa koleksi-koleksi tidak pernah off-shelf, dan itu berarti bahwa koleksi duplikasi akan sama bagus dengan aslinya, tidak perlu khawatir rusaknya fisik media asli, dan lebih dari itu, dengan menjadi informasi elektronik buku itu dapat dikirim lewat kampus seperti halnya perpustakaan konvensional meminjamkannya kepada pengguna. Sehingga pengguna perpustakaan tidak lagi didefinisikan sebagai orang yang berjalan ke pintu perpustakaan.

Semua ini menjadi nyata sejak perpustakaan mulai menggunakan penyimpanan computer. Sekarang merosotnya biaya perlengkapan computer, dikombinasikan dengan naiknya cost pembangunan dan staff, dengan membuat penyimpanan secara digital itu sangat lebih ekonomis. Dalam class project di Cornell, scanning sebuah buku tua membutuhkan biaya lebih dari $30. Ini untuk koleksi yang bahannya mudah pecah dalam scanner. Kertas yang cukup kuat menghabiskan biaya seperempatnya. Biaya untuk ruang disket, seperti disk terpasang, kurang dari $10. Perusahaan disk drive 15 petabytes tahun ini, atau 2,5 megabytes untuk perorang di dunia. Industri Magnetic tape akan mengirim 200 patabytes dari blank tape, cukup untuk mengcover semua kebutuhan Library of congress 900 kali.[4]

Bahkan, biaya untuk pembangunan gedung penyimpanan buku dalam perpustakaan juga terus meningkat. Cornell telah membuat sebuah bangunan gedung baru dengan asumsi biaya $20 per buku. Berkeley $30 per buku. theUniversity Of California San Francisco yang membangun gedung tahan gempa $60 perbuku. Pembangunan gedung the new British Librray berbiaya $75 per buku, di the ne wnwtional library di paris (the Bibliotheque nationale de France) $100 per buku. Biaya-biaya itu dapat diminimalisir dengan cara melakukan program digitalisasi.[5]

a. Elaine Sloan,”The Impact of Information Technologies on the Role of Research Libraries in Teaching and Learning In the United States”. Bibliographic Instruction (BI) atau pengembangan petunjuk penggunaan perpus mengembangkan adanya ide bahwa perpus sebagai pusat pembelajaran (center for teaching) Hal. 19. Tujuan utama BI ini adalah untuk mengajarkan pada civitas akademika, khususnya bagi mahasiswa S1, untuk dapat menggunakan perpustakaan secara efektif. MENURUT TESIS DARI McCLINTOCK, TEKNOLOGI INFORMASI MENYEDIAKAN KESEMPATAN UNTUK MEMBAWA PUSTAKAWANA DAN TEKNOLOG DALAM BIDANG INFORMASI AEBAGAI SATU KESATUAN (KOLABORASI) (HAL. 24)

b. WHAT’S HAPPENING TO THE BOOK?/RICHARD A.LANHAM, Apa yang akan terjadi dengan buku apabila kita berpindah dari zaman cetak ke era informasi elektronik digital?

c. THE IMPACT OF DIGITAL TECHNOLOGY ON LIBRARIES : A CHOTIC REVOLUTION/JERRY D. CAMPBELL. Digital teknologi telah merubah wajah perpustakaan konvensional dalam berbagai aspeknya.

d. MICHAEL LESK : THE FUTURE VALUE OF DIGITAL INFORMATION AND DIGITAL LIBRARIES. Value coming from digital information and what kinds of changes coming about as a result , yaitu pertama, digital libraries are now economically efficient, and the area is booming, ke dua, digital technology offers great advantages for libraries dan ke tiga the adoption of digital information will mean changes in the role of libraries, and in how we manage them. The most important question we must answer is how we will build a self-supporting system of digital information in a world in which libraries will need to cooperate more than they ever have in the past. In the digital world, it matters much less what libraries own and hold on their own shelves. It matters much more what they can access for their patrons. So libraries will be sharing the provision of information, and will have to trade a great many services among themselves. How will we able to arrange things so that libraries can cooperate, rather than fight each other for patrons? How can we establish the value of librarians and library services?

Beberapa keunggulan perpustakaan digital diantaranya adalah sebagai berikut: (1) long distance service, (2) akses yang mudah, (3) murah (cost efective), (4) pemeliharaan koleksi secara digital, (5) jawaban yang tuntas, (6) jaringan global. Keuntungan lain dari peran perpustakaan digital adalah: (1) Manfaat perpustakaan digital diantaranya, (2) sebagai sumber pengetahuan, (3) media penyebaran pengetahuan, (4) untuk penyimpanan (repository), (5) untuk perawatan/preservasi, (6) media promosi/etalase hasil karya civitas akademika, dan (7) mencegah duplikasi dan plagiat.

Digitalisasi Dalam Perpustakaan: kenyataan di Indonesia

Menurut Chowdhury perpustakaan digital merupakan perpustakaan yang paling penting dalam teknologi berbasis web karena peranannya yang besar dalam memberikan akses informasi yang dimilkinya..[6] Sedangkan dari hasil workshop IEEE CAIA dengan tema Workshop on intelligent Access To On-Line Digital Libraries dinyatakan bahwa digital Library adalah berkumpulnya komputasi digital, penyimpanan, dan komunikasi mesin yang bersinergi dengan perangkat lunak yang dibutuhkan untuk mengolah kembali koleksi dengan memberikan manfaat yang lebih besar terhadap layanan-layanan perpustakaan konvensional,baik menyangkut koleksi tercetaknya atau dalam pekerjaan rutin, seperti pengkoleksian, pengkatalogan, maupun dalam pencarian informasi. Sebuah perpus digital yang full service harus menyempurnakan semua layanan utama perpustakaan tradisional dan juga menggunakan/memanfaatkan keuntungan dalam menyimpan, mencari dan mengkomunikasikan informasi.[7]

Indonesia Digital Library Network, atau Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia adalah sebuah inisiatif yang dibuat dalam rangka untuk mempromosikan dan memungkinkan kegiatan berbagi content digital diantara perpustakaan digital yang ada di Indonesia dalam sebuah bentuk jaringan kerjasama.

IndonesiaDLN juga mendorong kegiatan untuk memperkaya public domain content dalam Bahasa Indonesia, diantaranya untuk bahan-bahan yang telah habis masa berlaku hak ciptanya, atau hak ciptanya sengaja diserahkan sebagai milik umum. Kegiatan yang dilakukan dalam IndonesiaDLN diantaranya adalah melakukan riset, menetapkan standard metadata dan interkoneksi antar perpustakaan digital, dan menyediakan infrastruktur untuk memungkinkan pertukaran metadata dan content itu dapat berjalan. Selain itu dalam jaringan ini anggota dapat berbagi praktek-praktek terbaik dalam pengelolaan koleksi digital di masing-masing institusi.[8]

Untuk Mempermudah Akses Informasi
SURABAYA - Universitas Katolik Widya Mandala (Unika WM) kemarin (29/9) meluncurkan perpustakaan digital berisi 2.932 local content (muatan lokal). Perpustakaan digital itu berisi tugas akhir dan skripsi para mahasiswa mulai angkatan 1990/1991 sampai sekarang.

Program digitalisasi muatan lokal tersebut berasal dari tujuh fakultas dan program pascasarjana. Digitalisasi ini tentu dapat makin mempermudah mahasiswa dan mempercepat dalam mengakses informasi.

Kepala Perpustakaan Yacobus Sudaryono mengatakan, program digitalisasi Perpustakaan Unika WM -yang mulai dilakukan sejak Juni silam itu- akan terus dilanjutkan hingga seluruh koleksi tuntas dirangkum. Dengan begitu, operasional perpustakaan menjadi efektif dan efisien.

"Dengan program ini, sekarang satu sumber dapat dibuka oleh banyak mahasiswa. Ruang perpustakaan pun jadi tak terbatas, bisa diakses di mana saja," katanya. Dia memaparkan, selama ini mahasiswa harus antre satu per satu apabila ada sumber telah dipinjam mahasiswa lain. Dengan sistem digital, mahasiswa tinggal mengakses lewat komputer yang tersedia di perpustakaan. Dalam waktu dekat, local content itu juga bisa diakses melalui situs.

Hadir dalam peluncuran kemarin, Kepala Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Aditya Nugraha. Dia menyatakan, para mahasiswa akan lebih antusias memanfaatkan perpustakaan dengan metode yang praktis tersebut. Pembuatan digitalisasi Perpustakaan Unika WM tersebut menggunakan sistem scan dan penelusuran soft copy. Bagi mereka yang masih menyimpan soft copy, perpustakaan akan memintanya. Apabila tidak, perpustakaan yang akan bekerja. Mahasiswa kemarin dapat langsung mencoba fasilitas tersebut. Program itu terbuka dalam bentuk pdf sehingga tidak dapat diubah-ubah. "Mahasiswa juga tidak diizinkan mengopi," kata Sudaryono.[9]

http://www.surabayapost.co.id/article.php?id=110&page=1 - Surabaya Post- Program itu akan segera dijalankan setelah menerima bantuan dari Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam proyek TPSDP (Technological and Professional Skills Development Project), selama empat tahun ke depan dengan nilai sekitar Rp 1 miliar. "Kini kami tinggal menunggu kepastian dana bantuan itu turun, prosesnya sudah memasuki tahap akhir, setelah dilakukan peninjauan pada pertengahan Januari lalu," kata Drs Achmad MA, Kepala Perpustakaan ITS, Kamis (7/2) siang.

Dikemukakannya, penerimaan bantuan dari ADB ini adalah kali kedua yang bakal diterima perpustakaan ITS. Sebelumnya melalui program DUE-Like (Development for Undergraduate Education), perpustakaan ITS menerima bantuan sebesar Rp 2,5 miliar selama lima tahun yang digunakan untuk menambah koleksi judul buku yang ada. "Tapi dalam perjalanan, karena Indonesia terkena krisis jumlah Rp 2,5 miliar tidak sepenuhnya cair," katanya.
Dikatakannya, program digitalisasi perpustakaan itu nantinya akan menghubungkan antara perpustakaan yang ada di masing-masing jurusan dengan perpustakaan pusat melalui teknologi intranet, sedang perpustakaan pusat dapat diakses melalui global internet. "Dengan teknologi itu secara otomatis jumlah judul buku yang dapat diakses melalui perpustakaan ITS bertambah menjadi dua kali lipat dari sekarang. Karena teknologi itu nantinya akan menyatukan buku-buku yang selama ini tersebar di berbagai jurusan yang jumlahnya hampir sama dengan yang kini dimiliki perpustakaan ITS sekitar 40 ribu judul buku," katanya.

Teknologi digital itu, katanya menjelaskan, selain akan lebih mempermudah dan mempercepat proses pelayanan, juga akan mempermudah mereka yang memang mencari buku-buku sesuai dengan bidang minat yang diinginkan. "Melalui teknologi itu seseorang tidak perlu lagi misalnya datang ke perpustakaan untuk meminjam buku, padahal bukunya masih dipinjam orang lain. Tapi cukup melihat melalui komputer apakah buku yang ingin dipinjam ada di tempat atau tidak. Kalau ada peminjaman bisa dilakukan melalui komputer, dan kapan akan diambil," katanya.

Angka Kunjungan Achmad juga menjelaskan, dengan teknologi digital yang akan dijalankannya itu, nantinya angka kunjungan perpustakaan tak lagi menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan perpustakaan, karena memang orang tak selalu akan berkunjung ke perpustakaan. Tolok ukurnya akan mengarah pada seberapa banyak buku dipinjam atau ke luar dari perpustakaan.

Dalam proyek digitalisasi perpustakaan itu, Achmad juga menyiapkan rencana untuk membuat tampilan web tiga dimensi dari perpustakaan, di mana orang dapat mengakses tiap-tiap ruang perpustakaan cukup melalui internet. "Misalnya koleksi ruang referensi itu ada apa saja, letaknya di mana dan lain sebagainya. Semuanya cukup diakses melalui tampilan web tiga dimensi. Kalau ini jadi dilaksanakan, maka perpustakaan ITS adalah yang pertama menggunakan teknologi ini di Indonesia," katanya.[10]

Perpustakaan, Kampus B, Unair. Sehubungan dengan bergulirnya upaya pengembangan data base koleksi di lingkungan Universitas Airlangga, UPT Perpustakaan Unair telah melakukan lompatan ke depan. Perpustakaan Unair telah berhasil membangun sistem digitalisasi koleksi yang dimilikinya.

Untuk itu, UPT Perpustakaan Unair mengadakan Soft Opening Sistem Digitalisasi Koleksi Universitas Airlangga pada hari Rabu, 11 Februari 2004 baru lalu. Dalam acara tersebut dipaparkan pengembangan pangkalan data koleksi Unair menuju digitalisasi, berikut soft opening sistem digitalisasi di sana. Turut diundang dalam acara tersebut Asisten Direktur I dan Asisten Direktur II Pascasarjana, Pembantu Dekan I dan Pembantu Dekan III Fakultas, Ketua Lembaga, Kepala Biro, dan Kepala UPT di lingkungan Unair. Sedianya Pembantu Rektor I Unair, Prof. Dr. H. Fasich, Apt. hadir dalam acara soft opening tersebut, namun karena sesuatu hal beliau berhalangan hadir. Sedang keberadaannya diwakilkan pada Pembantu Rektor III Unair, Drs. Suko Hardjono, MS., Apt. Acara itu sendiri diawali sejak pukul 11.00 WIB hingga berakhir sekitar pukul 13.00 WIB bertempat di ruang sidang, lantai III, Perpustakaan Pusat Unair.

Ke depan, semua sistem terhubung yang menghubungkan komunikasi data dan informasi di Perpustakaan Unair, yakni Perpustakaan Kampus A, Kampus B, hingga Kampus C; dihubungkan dalam satu jaringan. Dengan demikian, kita dapat mengakses suatu data/informasi dari dalam perpustakaan atau warga yang telah mempunyai/terjaring dengan jaringan internet di manapun mereka berada.

Adapun bentuk informasi yang didapat adalah berupa buku, artikel-artikel, jurnal, penelitian, serta tugas akhir mahasiswa di lingkungan Unair. Untuk itu UPT Perpustakaan Unair membuka alamat yang dapat dikunjungi, yakni melalui http://www.unair.ac.id lalu memilih link ke arah http://www.lib.unair.ac.id. Atau bisa juga langsung ke alamat http://digilib.unair.ac.id atau http://collection.lib.unair.ac.id atau bisa juga langsung ke alamat http://www.lib.unair.ac.id. Pada masa yang akan datang, diharapkan koleksi-koleksi yang berada baik di fakultas, lembaga, unit, ataupun laboratorium dapat juga diakses melalui jaringan yang dibangun Pepustakaan Unair. Dalam hal ini yang telah turut serta dalam database Catalog Online antara lain: Fakultas Hukum, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Sastra, serta Fakultas Kedokteran. Sedangkan database koleksi yang berasal dari Unit di luar Universitas Airlangga, untuk sementara ini yaitu: RSUD. Dr.Soetomo dan Institute Teknologi Bandung. Lain dari itu, sudah dirintis pula keberadaan portal dari perpustakaan PTN di Jatim. Dan yang sudah siap dalam hal ini selain Perpustakaan Unair sendiri, adalah Perpustakaan Unibraw.

Fasilitas lain yang diberikan oleh Pepustakaan Unair berupa layanan e-mail bagi mahasiswa Unair dengan alamat nama@students.unair.ac.id atau dengan nama@mitra.lib.unair.ac.id yang diperuntukkan bagi para karyawan di lingkungan Unair. Selain itu ada juga forum, yang menyediakan media diskusi antar mahasiswa Unair, luar Unair, serta masyarakat umum yang berminat. Adapaun alamat forum adalah http://forum.lib.unair.ac.id.

Selain itu, dalam website Perpustakaan Unair tersedia Catalog on-line yang dikenal dengan OPAC (Online Public Acces Catalog) yang telah diterapkan pada setiap lantai di Perpustakaan A, B, dan C. Sedang Digital Library berisikan data/informasi abstrak atas koleksi-koleksi terbitan/hasil karya civitas akademika Unair. Ini berisikan hasil penelitian Staf pengajar Unair, tugas akhir mahasiswa S2, maupun hasil disertasi dari mahasiswa S-3 di lingkungan Unair. Terdapat kelebihan, dimana Perpustakaan Unair dengan menggunakan GDL sudah dapat menampilkan abstrak hasil penelitian, sharing knowledge, serta penyediaan sarana promosi.

Dalam memudahkan akses informasi ke pangkalan data di luar Perpustakaan, telah disediakan fasilitas layanan internet bagi civitas akademika. Layanan ini tersebar di ketiga koleksi Perpustakaan Unair, mulai dari Kampus A, B, hingga Kampus C. Fasilitas lain yang sedang dibangun adalah sistem otomasi perpustakaan, khususnya sistem layanan peminjaman dan pengembalian, serta absensi pegawai secara online. Dengan ini diharapkan proses peminjaman dan pengembalian dapat dilaksanakan dengan satu jaringan, sehingga akan lebih memudahkan para pengguna maupun petugas Perpustakaan Unair itu sendiri. Yang digunakan adalah Sistem Otomasi Perpustakaan (SOP), dimana kendala l etak Perpustakaan Kampus A, B,dan C yang berjauhan dapat diatasi. Buku yang dipinjam mahasiswa, baik dari Kampus A, B, maupun C sekalipun, dapat diketahui oleh petugas bagian sirkulasi. Pengguna dapat mengetahui pula apakah suatu buku itu sedang keluar (dipinjam) atau sudah bisa dipinjam. Semua potensi yang ada tersebut, diharapkan dapat terus dikembangkan menuju era pelayanan prima dalam sebuah sistem digitalisasi Perpustakaan yang handal.[11]

Dampak Digitalisasi Bagi Perpustakaan dan Pengguna

Pelaksanaan sistem pembelajaran jarak jauh diharapkan dapat terus membaik dengan layanan on line-nisasi bagi 33 perguruan tinggi. Program layanan yang diberi nama Indonesian Higher Education Network ini digelar atas kerja sama Direktorat Jenderal Dikti dan Telkom.

“Untuk keperluan ini, pemerintah menyediakan dana sebesar Rp 50 miliar untuk program selama enam bulan, sejak Juni lalu,” ujar Dirjen Dikti, Tommy Ilyas di sela-sela acara “Smart Campus Gathering” yang diselenggarakan Telkom di Ciater, Subang, Rabu (29/11).

Program yang melibatkan 33 perguruan tinggi di 33 ibu kota di Indonesia ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi perguruan tinggi dalam menghadapi lingkungan yang hypercompetitive. Dengan adanya program ini, maka setiap kampus yang terhubung dapat menikmati layanan antara lain, teleconference,digital library, dan data sharing yang akan menunjang sistem kuliah jarak jauh atau e-learning.

Saat ini, menurut Tommy, baru 14 kampus yang dapat on line. “Ini juga bisa digunakan untuk mengendalikan penyelenggaraan kelas jarak jauh yang banyak melanggar,” ujar Tommy menambahkan. Sebenarnya, program ini telah direncanakan beberapa tahun lalu. Namun, karena ketidaksiapan masyarakat pendidikan dan masyarakat pada umumnya akan program yang berbasis IT, program ini gagal dilakukan. “Tahun ‘94 kita sudah mencoba melalui digitalisasi perpustakaan,” ujarnya. Pada tahun tersebut, Dikti telah memilih perguruan tinggi yang terbaik di Indonesia. Namun, kenyataannya program ini tidak berjalan.

Pengamat teknologi informasi dan komunikasi, Roy Suryo, mengatakan sudah saatnya kampus melakukan program inherent ini. “Kalau dilihat dari kemampuan, kita tidak ketinggalan. Banyak sumber daya manusia kita yang jago di bidang IT. Sayangnya, pemanfaatannya masih kurang maksimal,” ujarnya. Diharapkan, dengan program ini juga bisa meningkatkan penelitian di kalangan akademisi.

Keberhasilan program ini, menurut Roy, tidak hanya bergantung pada kesiapan SDM di kampus, tetapi juga kesiapan pihak swasta dan pemerintah. Ke depan, pengembangan dari program ini akan selayaknya kurikulum. Perguruan tinggi yang dapat menerapkan program ini dengan baik akan menjadi pola anutan.[12]

Digitalisasi/elektronisasi perpustakaan di Indonesia terbentur masalah hak cipta. Sebab, pencipta buku tidak akan terima apabila karyanya disebarluaskan oleh lembaga perpustakaan melalui internet. Karena itu, digitalisasi perpustakaan tidak secara otomatis menghapus sistem tradisional perpustakaan.

Hal itu dikemukakan Kepala Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Henny Linggawati, kepada Bali Post usai berbicara dalam seminar ''Learning Perlu E-Library'' di kampus UK Petra Surabaya, Senin (3/2) kemarin.

''Jadi, e-library belum ganti tradisional perpustakaan. Tetapi hanya melengkapi,'' katanya. Ia menyatakan, sejak 1995 sistem perpustakaan di UK Petra sudah menggunakan internet. Namun, penggunaan internet sebatas pada informasi perpustakaan dan daftar koleksi buku.

Sedangkan yang diakses dalam internet, menurut dia, sebatas karya tulis/skripsi mahasiswa, sejarah gereja, kekuatan jurusan arsitek UK Petra, Surabaya arsitektur kuno, hasil riset mahasiswa dan dosen, laporan proyek pengabdian masyarakat, portofolio civitas akademika dsb.

Ia menyatakan, karya civitas akademika dapat dikembangkan dan dialihwujudkan dalam berbagai bentuk media dan disajikan sebagai produk e-library yang dapat dikomersialkan. Dalam hal ini, dituntut kecakapan pustakawan untuk menguasai teknis pengalihwujudan, kepekaan kebutuhan pasar dan kemampuan memasarkan produk tersebut.

Sedangkan daftar buku yang ada di perpustakaan Petra tidak bisa diakses ke internet hanya untuk menjaga keamanan dari tuntutan pencipta buku. Karena itu, kata dia, perpustakaan UK Petra yang terbesar di Jatim hanya mengakses nama buku dan pengarangnya. ''Kami tidak berani 100 persen menampilkan buku dalam internet. Karena khawatir dituntut penciptanya,'' ungkapnya.

Kecanggihan sistim e-library saat ini sudah dimanfaatkan mahasiswa. Misalnya, mahasiswa jurusan desain komunikasi visual dalam menyelesaikan tugas akhirnya tidak perlu dalam bentuk buku skripsi. Tetapi cukup memberikan disketnya.[13]

Internet menawarkan alternatif baru dalam pemerolehan informasi dan sekaligus penyebarluasan informasi. Jika sebelumnya, informasi berbasis cetak merupakan primadona perpustakaan tradisional, sekarang tersedia format baru dalam bentuk digital melalui Web.Koleksi bahan digital yang ditransmisikan secara elektronik dan disebut perpustakaan digital,keberadaannya semakin penting dalam pemenuhan kebutuhan informasi pengguna.

Pengunaan Internet di suatu perpustakaan dapat dibedakan ke dalam dua jenis. Pertama, penyediaan akses yaitu penyediaan sarana dan prasarana dimana pustakawan dan pengguna perpustakaan dapat menggunakan Internet. Dalam hal ini, perpustakaan menyediakan sejumlah komputer sebagai terminal yang terhubung ke Internet.Penyediaan layanan akses ini bertujuan untuk memungkinkan sivitas akademika dapat memperoleh informasi yang bersumber dari Web, yang diperlukan untuk mendukung kegiatan proses belajar-mengajar dan penelitian. Kegiatan ini pada dasarnya sama dengan penyediaan bahan pustaka cetak yang merupakan kegiatan rutin suatu perpustakaan tradisional. Pengguna dapat melakukan sendiri penelusuran, atau dengan memesan bahan yang mereka perlukan kepada pustakawan. Dalam kaitan ini, pengetahuan dan pengalaman pustakawan dalam penelusuran menjadi sangat penting karena dapat meningkatkan efisiensipustakawan dan pengguna. Pustakawan sesuai dengan peran dasarnya, dalam menyediakanakses Internet dapat bertindak sebagai pembimbing terutama bagi pengguna baru, konsultanseperti layaknya fungsi pustakawan referens, pengawas untuk penggunaan yang tidakproduktif, penelusur berdasarkan pesanan pengguna, diseminator untuk penyebarluasaninformasi tentang bahan Web, dan organisator untuk mengorganisasikan bahan-bahan Web. Kedua, publikasi elektronik yaitu kegiatan untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang dan oleh perpustakaan. Dalam hal ini, perpustakaan memiliki dan memelihara sendiri suatu situs Web. Penerbitan Web bertujuan untuk mempublikasikan berbagai informasi tentang perpustakaan dan kegiatannya. Kegiatan ini pada dasarnya samadengan publikasi berbagai selebaran, brosur, pamflet panduan perpustakaan, daftar perolehanbaru, katalog dalam berbagai jenis, dan sebagainya yang biasanya dilakukan oleh sebuahperpustakaan, serta kegiatan publikasi lainnya. Dalam kaitan ini, perpustakaan bertindaksebagai penerbit. Situs perpustakaan memberi peluang baru bagi pustakawan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tergolong sulit untuk dilakukan. Peluang tersebut diantaranya adalah menerbitkan karya khas sekolah atau perguruan tinggi yang tidak diterbitkan tetapi didokumentasikan di perpustakaan sebagai deposit sekolah atau perguruan tinggi. Karya tersebut antara lain adalah bahan-bahan oleh dan tentang sekolah atau perguruan tinggi, termasuk diantaranya laporan penelitian, karya tulis, makalah seminar, simposium, bahanbahankuliah, dan publikasi sekolah atau perguruan tinggi lainnya. Kegiatan lainnya yangdimungkinkan adalah pelayanan perpanjangan pinjaman sebagai alternatif perpanjanganmelalui telepon, konsultasi antara pengguna dengan pustakawan referens, penyediaanhubungan ke sumberdaya Web lain, penerbitan buletin, dan sebagainya.

Penutup

''Jadi, e-library belum ganti tradisional perpustakaan. Tetapi hanya melengkapi,'' sejak 1995 sistem perpustakaan di UK Petra sudah menggunakan internet. Namun, penggunaan internet sebatas pada informasi perpustakaan dan daftar koleksi buku.

Sedangkan yang diakses dalam internet, menurut dia, sebatas karya tulis/skripsi mahasiswa, sejarah gereja, kekuatan jurusan arsitek UK Petra, Surabaya arsitektur kuno, hasil riset mahasiswa dan dosen, laporan proyek pengabdian masyarakat, portofolio civitas akademika dsb.

Ia menyatakan, karya civitas akademika dapat dikembangkan dan dialihwujudkan dalam berbagai bentuk media dan disajikan sebagai produk e-library yang dapat dikomersialkan. Dalam hal ini, dituntut kecakapan pustakawan untuk menguasai teknis pengalihwujudan, kepekaan kebutuhan pasar dan kemampuan memasarkan produk tersebut.



[1]INTERNATIONAL TRAINING ON DIGITAL AND VIRTUAL LIBRARY (http://e-lib.unmul.ac.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=2&artid=6, 21 nop 2007

[2] Stanley Chodorow, “Scholarship, Information, and Libraries in the Electronic Age” dalam DEVELOPMENT OF DIGITAL LIBRARIES : AN AMERICAN PERSPECTIVE, Edited by Deanna B. Marcum, foreword by Kakugyo S. Chiku, Connecticut : Greenwood Press, 2001.(papers presented at the international roundtable for information and library science, kanazawa institute of technology, library center, kanazawa, japan 1995.hlm. 9

[3] Ibid, hlm. 63

[4] Ibid, hlm. 64

[5] Ibid, hlm. 65

[6] G.G. Chowdhury and Sudatta Chowdhury, “Introduction to Digital Libraries”, London : Facet Publishing, 2004,hlm. 2

[7] Ibid, hlm. 6

[9] Minggu, 30 Sept 2007,Unika WM Digitalkan Local content(http://indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=305950, 21 Nop 2007)

[10] Perpustakaan ITS Disiapkan Jadi Digital(http://its.ac.id/berita.php?nomer=411, 21 nop 2007

[11] Soft Opening Sistem Digitalisasi Koleksi Perpustakaan Universitas Airlangga(http://www.warta.unair.ac.id/fokus/index.php?id=91, 21 Nop 2007

[12] Layanan “on line” perbaiki pembelajaran Jarak jauh, oleh :Riyanafirly (4 Des 2006) http://riyanafirly.wordpress.com/2006/12/04/layanan-%E2%80%9Don-line%E2%80%9D-perbaiki-pembelajaran-jarak-jauh/ 21 nop 2007

[13]Elektronisasi Perpustakaan Terbentur Hak Cipta (http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/2/4/n1.htm, 21 Nop 2007